Search
Wanita : Pujian atau Belaan?

Wanita : Pujian atau Belaan?

Jika saya boleh jujur, salah satu hal yang paling membuat saya penasaran adalah, apa yang pertama kali dibahas oleh Adam dan Hawa ketika mereka dipertemukan oleh Tuhan?

Saya paham, hal semacam itu bukanlah sebuah pertanyaan yang layak untuk dijawab, tetapi baik untuk dijadikan sebagai pengisi dalam sebuah diskusi.

Melalui buku Rosemarie Putnam Tong yang membahas mengenai feminisme, saya mulai tertarik dengan feminisme. Saya harap kita sama-sama bisa memahami bahwa meskipun saya tertarik dengan feminisme bukan berarti saya bagian dari feminisme itu sendiri.

Teman-teman bisa membeli buku Rosemarie Tong melalui tautan berikut :

Buku tersebut adalah buku pengantar terbaik yang pernah saya baca. Karena terlepas dari Rosemarie yang menjelaskan berbagai macam aliran-aliran feminisme, dia juga memberikan kritik dari setiap aliran.

Sebenarnya bukan mengenai gerakan kesetaraan gender yang menjadi titik fokus mengapa saya tertarik dengan buku-buku feminisme, tetapi lebih kepada bagaimana saya bisa mendapatkan pelajaran dalam memahami wanita setelah saya membaca buku-buku tersebut.

Setelah Putnam Tong, ada juga Tama Starr, seorang penulis berkebangsaan Amerika, dia juga adalah presiden Artkraft Strauss.

Bukunya yang paling saya suka adalah buku berjudul “The Natural Inferiority of Women : Outrageous Pronouncements by Misguided Males

Salah satu kutipan menarik yang ada di buku itu adalah

“Wanita adalah kejahatan yang diperlukan serta kehancuran yang diinginkan.”

Ketika saya membacanya, beberapa detik saya berhasil terdiam dan berdecap kagum pada penemuan manusia akan kalimat ini.

Karena memang hal itu benar.

Buat teman-teman yang mau membeli buku Tama Starr yang sedang saya bahas ini, bisa menggunakan tautan berikut

Wanita adalah rupa dari pengendali keadaan. puncak dari nafsu pria, tetapi juga titik dari kelemah lembutan pria.

Dalam rangka jejak langkah seorang pria, tentu tidak luput dari peran sesosok Wanita. Ada ibu yang entah bagaimana cara terbaiknya agar kita bisa memberi definisi untuk semua jasa-jasanya.

Saudari-saudarinya, dan tak lupa wanita yang akan menemani perjalanan berkelanjutannya nanti.

Tama Starr juga mengungkapkan bahwa wanita adalah rupa nyata dari iblis. Semua kejahatan seolah hadir dari wanita.

Seorang pria merebutkan kekuasan tidak lain tidak bukan untuk wanita, seorang pria berjuang mencari uang tidak lain tidak bukan untuk wanita, bahkan, seorang pria membunuh pun untuk wanita.

Tetapi, bukan pembahasan mengenai semua kekejian wanita yang akan saya bahas kali ini. Melainkan lebih kepada sisi feminis dari wanita itu sendiri.

Seperti judul tulisan ini, apa yang lebih dipilih wanita, Pujian atau Belaan?

Kita semua sama-sama menyadari bahwa sudah menjadi kodratnya jika wanita begitu senang untuk dipuji, lebih-lebih jika pujian itu mengarah pada fisiknya.

“Kau terlihat begitu cantik malam ini.”

“Aku suka melihatmu menggenakan gaun itu.”

“Tahi lalat dan lekuk bibirmu berlomba-lomba menyempurnakan kecantikanmu.”

Tetapi, apakah hal itu membuat jawaban bahwa wanita lebih memilih pujian?

Melalui observasi serta kajian yang saya lakukan terhadap wanita-wanita yang ada di sekitar saya. Mulai dari ibu saya, saudari-saudari saya, teman-teman perempuan saya, dan lain sebagiannya, saya menyadari bahwa terdapat kesalah pahaman mengenai belaan dan pujian terhadap wanita.

Memang benar, pujian kerap kali membuat wanita melambung tinggi. Apa lagi ketika mereka sadar bahwa pujian itu tidak ada tipu muslihatnya.

Sayangnya, saya lebih beranggapan bahwa wanita cenderung lebih suka di bela dari pada mendapatkan pujian.

Salah satu bukti, coba perhatikan saja, betapa senangnya wanita menceritakan masalah yang sedang menimpanya, jika ada yang membalasnya, tanpa ragu mereka kerap kali menambahkan lagi masalahnya. Contoh

“Tadi aku di hina di depan kelas sama dosen itu. Cuma gara-gara salah nulis nama.” si Wanita

“Ah, baru gitu aja udah di ambil pusing. Aku mah udah sering digituin, bawa-bawa orang tua lagi.” si Pria

“Tapi dihinanya depan kelas lo, dihadapan anak-anak. Siapa coba ga malu.”

“Yah biasa aja kali, baru pertama juga.”

“Ah, kamu ga ngerti banget posisi aku.”

Hal ini menandakan bahwa, belaan adalah bentuk dari kesimpatikan.

Sementara itu, pujian hanya bersifat sementara. Tidak bertahan lama dan bersifat dibuat-buat.

Meskipun belaan juga berpotensi dibuat-buat, tetapi belaan lebih dari sekadar bahwa kita peduli kepada mereka. Ketika kita membela, wanita biasanya merasa bahwa perasaan dan kondisinya dipahami, ceritanya didengarkan, dan mendapatkan perlindungan serta rasa aman di balik belaan tersebut.

Saya sadar saya adalah seorang pria yang tidak memiliki hati dan pikiran yang sama persis dengan wanita. Oleh sebab itulah, saya akan sangat bahagia apabila teman-teman yang membaca tulisan ini mau berdiskusi melalui kolom komentar yang ada di bawah.

Jadi menurut kalian wahai kaum hawa, apa yang lebih kalian pilih. Mendapatkan seribu pujian atau satu belaan?

“Saya rasa kolom komentar tidak jauh jaraknya..”

Total
0
Shares
Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

7 + one =

3 comments
  • Saya rasa antara pujian dan pembelaan sama saja, saat di puji wanita itu senang dan saat di bela pun wanita itu juga senang. Tetapi kalau wanita diminta untuk memilih di puji atau di bela saya yakin wanita lebih memilih untuk dibela, karena disaat wanita itu dalam keadaan terancam kata pujian tidak cukup untuk menolongnya tetapi pembelaan lah yg akan menentukan wanita itu senang atau tidak. Jadi kesimpulannya pria mana pun bisa memberikan 1 kata pujian terhadap wanita, tetapi tidak untuk 1 pembelaan saat wanita itu terancam.

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.