Ucap Syukur yang Tertunda

Ucap Syukur yang Tertunda

Hingga kini, saya masih suka mempertanyakan perihal pukul berapa alam memproduksi embunnya. Saya sadar, bahwa sebenarnya itu bukanlah sebuah pertanyaan yang hadir untuk dijawab. Tapi entah bagaimana, saya begitu suka tiap kali saya suka mempertanyakan hal itu.

Selepas project toko online racun kemarin, kesibukan dunia perkuliahan perlahan mulai begitu terasa saat ini.

Mulai dari tugas mata kuliah, hingga kesibukan beberapa organisasi yang saya ikuti.

Saya sudah lama tidak menulis, lebih-lebih untuk blog personal ini. Bukan karena sibuk, tapi karena saya seakan tidak bisa memproduksi kata-kata.

Tapi syukurnya, meskipun begitu, saya masih bisa menulis beberapa lagu.

Saya menulis tulisan ini selepas maghrib. Saat itu, awan masih berbondong-bondong merubah dirinya menjadi hitam.

Saya duduk di luar rumah, kebetulan ada kursi, saya melihati awan itu bergerak. Yang dalam keadaanya, bergerak ke arah kiri saya.

Sesaat kemudian, awan perlahan mulai gelap. Tetapi, pada pukul satu dari hadapanku. Terdapat segerumpulan awan putih, yang saya terka, ia sedang menutupi tugas dari rembulan.

Beberapa hari ini, saya tidak bisa mengatakan bahwa keadaan saya sedang baik-baik saja. Akan tetapi entah bagaimana caranya, ada sebuah kesadaran yang baru saja saya sadari.

Terdapat sebuah ucap syukur yang sempat tertunda. Awalnya saya mengabaikan hal itu, tapi perasaan itu seolah menuntut saya untuk mencari tahunya.

Tentu, saya tidak mungkin menyibukan diri hanya untuk mencari tahu ucap syukur apa itu.

Namun, saya mendapati jawabannya sendiri. Yaitu,

Kepergianmu dari hidupku, ternyata merupakan ucap syukurku yang sempat tertunda.

Barangkali bukan tertunda, hanya saja, memang menunggu waktunya.

Pada gilirannya, kita akan mengucapkan syukur masing-masing atas apa-apa saja yang telah terjadi. Barangkali saat ini adalah giliran saya.

Syukur di sini, tidak serta-merta memiliki arti bahwa saya bahagia atas semua yang telah hilang dari hidup saya.

Namun, saya menyadari, bahwa semuanya memang selayaknya terjadi.

Hilang yang dulu sempat saya tangisi, ternyata justru membawa beberapa pelajaran baru untuk saya.

Cerita-cerita bahagia, sedih, hambar, tidak ada satupun yang saya lupakan. Namun, saya jagonya untuk pura-pura melupakan.

Sampai sini, saya menghela nafas. Mulai banyak nyamuk-nyamuk yang menemani ketika saya menulis.

Dedaunan dari pohon dan tumbuhan yang ada di rumah kami menari begitu indahnya. Dan awan yang putih tadi, sekarang betul-betul menjadi gelap. Namun bulan, belum juga menunjukan dirinya. Barangkali, hujan akan tiba.

Kesimpulan dari semua apa yang saya dapati adalah

Bahwa, bukan lupa yang kita butuhkan untuk betul-betul bisa melupakan cerita masa lalu. Semua cerita, memiliki periode nya masing-masing dalam urusan mana yang penting, mana yang tidak. Kita tidak punya ramuan khusus untuk melupakan masa lalu, kecuali waktu serta anggapan tuhan bahwa kita sudah siap untuk mempelajari semua masa lalu itu.

Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

sixteen − one =

Tri Bintang Utama

Founder of Islamiah.id
Founder of Bingungonline.com

Pinterest Profile