Search
Transportasi : Harap tak berhenti di sini

Transportasi : Harap tak berhenti di sini

Travelling? oh, banyak manusia di dunia ini yang begitu menyukainya. Mendapatkan hal baru, pengalaman baru, bertemu dengan orang-orang baru, dan mampu meminimalisir stres katanya.

Tapi tidak dengan saya.

Bagi saya pribadi perjalanan adalah hal yang membosankan, dan sejujurnya membuang-buang waktu.


Setidaknya itu adalah pemikiran ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dulu.

Sebenarnya, yang membuat membosankan adalah dalam proses perjalanannya. Bagi saya pribadi perjalanan adalah bentuk dari pemanjaan diri yang buruk.

Duduk bersandar di bangku, dengan harapan terbaiknya yaitu mampu sampai ketempat tujuan dengan selamat dan naifnya kerap kali kita berharap untuk sampai ketempat tujuan dengan cepat.

Saya beranggapan bahwa, waktu yang terbuang itu bisa dimanfaatkan dengan menulis atau mengerjakan hal-hal lainnya.

Bayangkan saja, jika proses perjalanan itu selama 45 menit. Sudah berapa halaman tulisan yang bisa saya selesaikan?

Belum lagi dengan kejadian-kejadian tidak terduga yang ada di jalan, seperti macet.

Macet?

Pada tahun 2018 Tom Tom Traffic Index merilis laporan negara termacet. Dan Indonesia merupakan negara yang berada pada urutan ke-7 sebagai negara termacet di dunia.

Sebagai mahasiswa yang tinggal di Indralaya tentu hal ini pun turut saya rasakan.

Seperti yang kita ketahui bahwa kampus Universitas Sriwijaya terdapat dua lokasi. Yaitu Kampus di Indralaya dan di Kampus Bukit Palembang.

Pemisah dua lokasi ini tentu membuat dosen maupun mahasiswa sering berbolak-balik dari kampus Indralaya ke Bukit Palembang, maupun sebaliknya.

Kemacetan sering terjadi ketika saya hendak pergi ke Palembang. Dari kemacetan itu, tentu banyak menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan baik dari pihak Dosen maupun Mahasiswa.

Di Unsri biasanya ada mahasiswa yang tinggal di Palembang tetapi berkuliah di Indralaya, dan tidak jarang mahasiswa-mahasiswa itu terlambat. Dan kerap kali mengalaskan bahwa sedang terjadi macet di jalan. Jikalau hal semacam itu tidak segera dicari solusi tentu keterlambatan mahasiswa akan terus terjadi dan dapat menganggu jalannya perkuliahan.

Oleh sebab itulah, pada November 2016 pihak Pemprov Sumatera Selatan meluncurkan Bus Damri jenis Rapid Transit (BRT)

sumber : suara1996.blogspot.com

Bus Damri ini memiliki rute perjalanan Prabumulih-Palembang, Kayu Agung-Palembang, dan Indralaya-Palembang. Dengan tarif mulai dari Rp5.000-15000.

Melalui program ini, Pemprov Sumatera Selatan mengharapkan dapat mengurangi kemacetan dan angka kecelakaan lalu lintas di Provinsi Sumatera Selatan.

Nah, Bus Damri ini juga beroperasional khusus untuk mahasiswa yang hendak pergi dari Kampus Indralaya menuju Kampus Bukit Palembang atau sebaliknya.

Dan yang tak kalah menariknya adalah, untuk jarak yang lumayan jauh, Mahasiswa hanya perlu membayar sebesar Rp 5.000

Hal ini pun sangat menyenangkan bagi kami para Mahasiswa. Terlepas dari harganya murah, Bus Damri yang nyaman, sopir yang tidak ugal-ugalan serta memiliki jadwal khusus pemberangkatan tentu membuat kami tidak terlalu cemas lagi perihal keterlambatan dan kecelakaan di jalan. (Meskipun kita sama-sama menyadari bahwa hal semacam itu tidak dapat terhindari)

Sayangnya, Bus Damri ini memiliki batasan jam. Sehingga tidak betul-betul memberikan rasa ketenangan bagi para mahasiswa.

Jadi untuk Bus Damri yang hendak pergi dari Kampus Bukit Palembang menuju Kampus Indralaya itu hanya batas jam 10:00 WIB

Sedangkan bagi mahasiswa yang hendak berangkat dari Kampus-Indralaya biasanya Bus Damrinya terakhir beroperasi jam 12:00 – 13:00

Mengingat jadwal kampus mahasiswa yang tidak bisa dipastikan, lebih-lebih berbagai kegiatan mahasiswa yang menuntut mahasiswa terkadang harus pulang sore, tentu sangat disayangkan apabila mereka harus pulang dengan tidak naik Bus Damri lagi.

Biasanya, untuk mahasiswa-mahasiswa yang telah kehabisan Bus Damri mereka akan naik Bus yang biasa kami sebut Bus Kaleng ataupun Travel.

Yang mana tentu harganya berbeda. Untuk Bus Kaleng sendiri dikenakan tarif harga Rp 8000 – 10.000 sementara itu untuk Travel dikenakan tarif mulai dari Rp 15.000 – Rp 25.000

Dengan mempertimbangkan segi biaya dan kenyamanan tentu kebanyakan mahasiswa jauh lebih berharap apabila Bus Damri ini bisa beroperasional hingga sore hari.

Akan tetapi, tentu hal ini perlu dipertimbangkan lagi. Pemutusan kebijakan mengenai batasan jam operasional damri ini bukan semata-mata diambil hanya untuk menguntungkan satu pihak tetapi ada pertimbangannya.

Pernah pada suatu hari, kalau tidak salah saat itu hari Jumat. Kebetulan Mata Kuliah saya hanya satu dan jam 9:30 sudah keluar. Saat itu saya dari Kampus Bukit Palembang hendak menuju ke Kampus Indralaya.

Karena saya sadar bahwa batas terakhir operasional Damri adalah Jam 10:00 saya pun bergegas menuju ke terminal tempat penungguan damri.

Waktu terus berjalan tetapi damri tak kunjung datang. Yang menunggu damri tidak sedikit, saya yakin bahwa satu bus damri tidak akan cukup untuk menampung orang sebanyak itu.

Hingga ketika pukul 9:53 Bus Damri pun datang, mahasiswa-mahasiswa mulai berdiri hendak berebut masuk ke Damri.

Tiba-tiba, sebelum kami sempat masuk ke Damri ada dua orang pria menggenakan motor datang menemui petugas yang mengatur damri. Karena posisinya petugas itu tidak jauh dari kami tentu kami bisa mendengarkan secara langsung apa yang mereka bicarakan.

Ternyata dua pria tersebut adalah bagian dari pihak Bus Kaleng. Singkatnya mereka mengancam akan menurunkan dan menghadang damri apabila masih hendak beroperasi setelah damri yang satu ini. Karena sesuai dengan perjanjian batas waktu damri beroperasional hanya sampai jam 10:00

Dengan mengandalkan tubuh saya yang kecil, saya berhasil masuk ke damri itu. Di dalam damri itu saya berpikir, mengapa dua pria itu sangat berani mengancam pihak damri.

Karena lebih memilih untuk berpikir dibandingkan mencari informasi yang mana kebetulan saya sedang tidak memegang Handphone saat itu untuk mencari tahu di internet.

Saya terus berpikir mengenai hal ini, di satu sisi saya kasihan dengan mahasiswa-mahasiswa tadi yang tidak kebagian bus damri, di satu sisi saya mempertimbangkan mengenai mengapa dua pria itu memprotes.

Dan pada akhirnya saya sadar, pihak Unsri dan Pemprov cukup bijak untu mengambil keputusan pemberlakuan batas operasional jam itu. Karena dengan begitu, tidak ada pihak yang dirugikan. Dan perekonomian sama-sama terus berjalan. Kalau istilah palembangnya (samo-samo ngejoi)

Maksud saya begini, seperti yang saya sebutkan di atas dengan tarif yang murah serta kenyamanan tentu mahasiswa lebih memilih menaiki damri.

Bus Kaleng yang dalam hal ini lebih dahulu beroperasional dari Damri tentunya merasa dirugikan. Penghasilan mereka dulu tidak sebanyak setelah hadirnya Damri dikarenakan mahasiswa-mahasiswa jauh lebih memilih untuk naik Damri.

Agar tidak merugikan pihak Bus Kaleng, terciptalah keputusan pemberlakuan pembatasan jam operasional bagi Damri.

Meskipun keputusan itu sudah bijak, alangkah baiknya apabila pihak unsri dan pemprov sumsel mempertimbangkan untuk menambah jumlah Damri. Dengan begitu meskipun yang beroperasional hanya sebatas jam 10:00 tetapi cakupan atau jumlah mahasiswa yang bisa naik akan bertambah.

Selain itu, ada satu kendaraan lagi yang begitu saya rasakan dampaknya terhadap ketidaksukaan saya akan suatu perjalanan.

Yaitu Lintas Rel Terpadu Palembang.

Mulanya, Palembang merencanakan pembangunan monorel, sayangnya pembangunan tersebut pada akhirnya harus dibatalkan karena kesulitan mencari investor.

Kemudian pembangunan monorel diganti dengan LRT yang dianggap lebih efektif.

Proyek LRT ini mencapai Rp 9,4 triliun, yang mana dananya dibiayai oleh Pemerintah Pusat melalui APBN dan penugasan konstruksi BUMN.

Pada tanggal 20 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo menandatangani Perpres Nomor 116 Tahun 2015 tentang percepatan penyelenggaran kereta api ringan di Sumatera Selatan ini.

Di lansir dari wikipedia, ada 13 stasiun pada jalur LRT dan 12 stasiun sudah beroperasi sejak 6 oktober 2018

Pertama kali saya hendak naik LRT adalah untuk menuju ke Gramedia World yang berlokasikan di punti kayu.

Posisi rumah saya ada di Indralaya, dekat dengan kampus unsri indralaya, jadi ketika saya mau ke Palembang biasanya naik Travel ataupun bus kaleng.

Nah, biasanya jika saya naik bus kaleng ataupun travel akan turun di jembatan ampera.

Untungnya, di dekat jembatan ampera itu ada stasiun LRT. Jadi saya memutuskan untuk naik LRT untuk menuju ke Gramedia World. Saat itu saya bersama dua teman saya. Harus saya akui, kesan pertama naik LRT ini tidak memenuhi syarat untuk mengecewakan saya.

Tarif yang murah yaitu Rp 5.000, lebih cepat sampainya, nyaman serta tempat tunggu yang sejuk sungguh membuat LRT jadi pilihan terbaik.

Selama 5 tahun terakhir ini Kementrian Perhubungan banyak sekali memberikan kinerja yang baik dan mendatangkan kemajuan yang signifikan di Indonesia.

Contohnya seperti Bus Damri dan LRT yang saya ceritakan di atas.

Untuk teman-teman yang mau membaca secara keseluruhan laporan kinerja dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia selama 5 tahun terakhir, teman-teman bisa membacanya melalui tautan di bawah ini

Bagi orang yang tidak suka akan perjalanan seperti saya pun turut merasakan efek baiknya.

Saya jadi paham rute-rute perjalanan karena akses yang mudah, saya jadi tidak mudah muntah karena kendaraan yang nyaman, serta saya jadi bisa menghemat uang karena tarifnya yang irit.

Kedepannya, saya berharap pembangunan transportasi ini akan terus berlanjut, tidak hanya berhenti di sini saja dan terus mendatangkan dampak positif serta turut andil dalam mensejahterahkan kehidupan masyarakat Republik Indonesia.

Teman-teman juga bisa mendapatkan info terkini mengenai pembangunan transportasi di Indonesia melalui akun media sosial dan website dari kemenhub yaitu:

Instagram : @kemenhub151
Twitter : @kemenhub151
Website : http://www.dephub.go.id/

Mari terus berikan dukungan kepada kementrian perhubungan agar bisa membangun dan menjadikan transportasi di Indonesia lebih baik lagi!

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia

Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

ten + 3 =

Tri Bintang Utama

Tri Bintang Utama

Founder of Islamiah.id
Founder of Bingungonline.com