Search
Sungguh Pemikiran yang Sexi

Sungguh Pemikiran yang Sexi

Semua bermuala dari kesukaan saya akan dunia filsafat. Sejujurnya, hal yang paling saya suka adalah sejarahnya. Lebih tepatnya, mempelajari filsafat dengan pendekatan historis.

Tentu semua itu berkat kepiawaian tangan Paul Strathern, berhasil dia membuat saya betah berlama-lama bersama buku-bukunya.

Cara saya memahami filsafat dengan pendekatan historis tentunya banyak sekali berpengaruh kepada saya.

Yang paling jelas, adalah cara saya menilai pola pikir seseorang.

Nietzche, filsuf berkebangsaan Jerman yang pada akhirnya harus meninggal dengan pandangan orang-orang di sekitarnya menganggap bahwa dia adalah orang Gila.

Salah satu deklarasi yang begitu terkenal dari Nietzche adalah

“Tuhan telah mati”

Pada beberapa diskusi yang saya lakukan dengan berbagai kalangan, entah itu dari kerabat-kerabat saya, keluarga saya, dan beberapa kalangan lainnya, ketika saya menyatakan bahwa saya menyukai gagasan itu, tentu dengan tegas mereka mengaggap bahwa saya adalah orang yang tidak beragama, atau atheis.

Tentu, saya membiarkan mereka terbelenggu akan tanggapan semacam itu. Toh, saya atheis atau tidaknya saya rasa mereka tidak akan terlalu memperdulikannya.

Ketika SMP saya membaca banyak tentang Nietzche yang ditulis langsung oleh Paul Strathern.

Dalam tulisan tersebut tertera deklarasi si Nietzche ini. Sebagai penulis biografi, agaknya wajar saja jika dalam buku tersebut saya tidak mendapati Paul Strathern yang menjelaskan mengapa pada akhirnya Nietzche menyatakan hal semacam itu.

Pertama membaca gagasan tersebut, saya seolah terus mengutuk Nietzche. Begitu biadabnya dia telah menyatakan bahwa tuhan telah mati.

Namun, ketika saya SMA, lebih tepatnya pada saat jam kosong. Entah mengapa tiba-tiba saya kembali teringat akan deklarasi Nietzche tersebut. Bukan sekedar teringat, tetapi saya juga baru menyadari bahwa terdapat ke luar biasaan pada kata-kata tersebut.

Tuhan telah mati.

Kata ‘telah’ di sana berhasil membuat eksperesi saya kala itu merasa kaget dan senyum-senyum sendiri.

Ya, ada kata telah.

Paham maksud saya?

Sederhananya begini, berarti secara tidak langsung Nietzche mempercayai bahwa Tuhan itu memang ada.

Meskipun deklarasi Nietzche ini terdengar lebih kasar dari pada gagasan kalangan Atheis yang menyatakan bahwa tuhan itu tidak ada, sejujurnya saya lebih menyukai gagasan si filsuf yang dianggap gila tersebut.

Sayangnya, beberapa orang yang saya beri tahu bahwa saya menyukai deklarasi itu menganggap bahwa saya orang yang tidak beragama.

Padahal, konsepnya tidak seperti itu.

Menyukai belum berarti bahwa saya turut menyetujui.

Nah dari semenjak itulah, saya mulai tertarik akan pola pikir seseorang. Bagaimana pada akhirnya Nietzche bisa mengeluarkan gagasan tersebut? bagaimana social circle nya si Nietzche, seperti apa pendidikannya, intinya saya terus mencari-cari koneksi yang berpotensi dapat mempengaruhi pola pikirnya.

Entah mengapa, saya menerapkan hal itu bukan hanya kepada Nietzche saja, tetapi hampir ke semua orang. Lebih-lebih kepada orang yang baru saya kenal.

di artikel ini saya menuliskan mengenai fokus pertanyaan saya terhadap orang yang baru saya kenal.

Karena saya menganggap bahwa, pertanyaan tersebut pada akhirnya dapat menuntun saya mengetahui seperti apa lingkungan dan kebiasaan yang pada akhirnya menyusun pola pikir seseorang.

Saya memperhatikan, entah itu dikalangan akademis, masyarakat pada umumnya, hingga orang-orang terdekat saya.

Mereka (tanpa terkecuali) menganggap bahwa kebijaksanaan itu ketika mereka sudah mendahului dan mengkritisi pola pikir orang tersebut. Tanpa berupaya untuk mengetahui bagaimana lingkungan dan kondisi pendidikan orang tersebut.

Bukankah perlakuan semacam itu malah justru tidak menunjukan kebijaksanaan sama sekali?

Mengenai hal ini saya jadi ingat sebuah peristiwa ketika saya sedang ingin pulang dari kampus.

Saat itu hari sudah sore, keadaan jalan mulai diramaikan dengan orang-orang yang hendak pulang kerumah masing-masing. Tidak terkecuali saya. Saya pun turut ingin pulang, dan kala itu saya pulang dengan menaiki bus.

Seperti biasa, saya selalu suka duduk di bagian paling depan. Berdekatan dengan si supir.

Bukan apa-apa, hal itu saya lakukan karena kata orang kalau kita duduk di depan kita tidak akan merasa mual. Saya orang yang mudah muntah.

Singkat cerita, di perjalanan si kenek duduk di samping saya. Karena pada saat itu saya duduk sendirian. Tiba-tiba ada orang lain yang berjalan kedepan kemudian memukul si kenek yang duduk di samping saya itu. Si kenek yang menerima pukulan itu tentu tidak terima, perkelahian pun terjadi. Sementara itu, saya yang duduk di samping si kenek ikut terlibat kontak tubuh perkelahian itu.

Si kenek tersender ketubuh saya, yang sudah semakin merasa sempit di tempat duduk itu. Tentu saya tidak ikut berkelahi, saya hanya terdiam sambil memandangi jalan di depan. Karena cemas jika pada akhirnya saya akan muntah.

Sesekali, mata saya melirik kebelakang. Saya dapati penumpang-penumpang merasa cemas takut kena pukul dari perkelahian itu.

Dan tidak sampai lima menit, barulah ada orang yang berani memisahkan mereka.

Ketika perkelahian usai, si supir memanggil orang yang tiba-tiba memukul si kenek tadi. Ternyata saya dengar-dengar orang itu juga bagian dari keluarga Bus itu. Maksudnya, sesekali juga orang itu suka menggantikan menjadi seorang kenek.

Si supir menampar orang itu, sambil bilang

“Kalo mau bertengkar jangan di dalam mobil, nanti kalo penumpang sudah turun.”

Beberapa orang menganggap tentu si supir juga tidak bijak. Dia bilang begitu, tetapi dia sendiri menampar orang tadi di dalam mobil, disaksikan para penumpang.

Tapi, agaknya. Hal itu adalah sebuah kebijaksanaan, mengingat social circle nya memang begitu.

Ya, kurang lebih begitu lah.

Hingga pada akhirnya saya pun sampai, ketika berjalan menuju rumah saya, tangan kanan menenteng skateboard dan tangan kiri saya gunakan untuk bermain harmonika.

Saya nikmati hembusan angin dan tarian ranting pohon yang menhibur saya kala itu. Seolah mereka pun turut menikmati permainan harmonika saya.

Saya menuliskan ini bukan untuk dibilang bijak, tetapi mari jangan terlalu cepat mengatakan orang itu bodoh dan tidak bijak tanpa mengetahui terlebih dahulu bagaimana latar belakang orang itu.

Kata ayah saya, bijaksana itu ketika kita berhasil menyesuaikan. Kepada apa,dan kepada siapa konteks dari pembahasan itu.

Sungguh, selama ini saya menganggap bahwasahnya bagian terseksi yang ada pada manusia bukanlah tubuhnya, melainkan cara dia berpikir.

Sayangnya, hingga kini saya belum mendapatkan dan menemukan orang yang berhasil membuat saya merasa bahwa orang tersebut memiliki pemikiran yang sexi.

Total
0
Shares
Join the discussion

seventeen − 11 =

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.