Search
Setelah Tamat SMA bisa apa?

Setelah Tamat SMA bisa apa?

setelah tamat sma bisa apa

Hari ini hari ke 2 aku resmi menjadi mahasiswa, seperti biasa yangku lakukan bangun sebelum subuh, perbedaannya jika dulu ada bunda yang selalu membangunkanku, eh bukan-bukan sebenarnya setiap bunda membangunkanku aku sudah bangun lebih dulu, hanya saja aku sengaja pura-pura masih tidur, biar kunikmati tangan halus dan lembut itu mengusap kepalaku,

 “Yuk bangunlah, sudah subuh, kalau sholat lewat dari jam 05:30 idak dapet duet jajan”


Bunda tau aku kurang suka di bentak, meskipun kata-katanya tadi sedikit mengancam namun di ucapkan sangat lembut, ga ada alasan lagi aku ga nurut.
Dan sekarang tak ada lagi suara lembut itu, karna kuliah jauh dari orang tua telahku sepakati sebelumnya, aku harus berusaha bangun pagi sendiri, menyiapkan sarapan, membersihkan kost, menjemur pakaian dan lain-lain.


Meskipun sudah bangun sebelum subuh santay memang sudah mendarah daging aku tetap saja tergesah-gesah, 10 menit lagi kelas di mulai, aku harus sampai ke kampus kurang dari 10 menit dengan jalan kaki, tempat kostku dengan kampus memang tidak terlalu jauh, tapi lumayan menguras tenaga, ayah belum mengizinkanku membawa motor, takut nanti ada apa-apa.


Akhirnya aku sampai di kelas, ya benar saja aku dapat tempat duduk paling belakang, oke baik lah besok harus datang lebih awal lagi lirihku, kata hati yang selalu ku ucapkan namun tak pernah terwujud, dan tak lama kemudian pak dosenpun masuk kelas, namanya pak asep asli orang sunda, aku belum pernah melihat beliau sebelumnya, namun aku langsung penasaran bagaimana sih beliau ini setelah dia memperkenalkan diri.


Di persingkat saja, Sampai akhirnya beliau membuka pembicaraan, 

“sudah siap menjadi mahasiswa?”Langsung di jawab oleh maba dengan semangat “Siapppp”J

eda sebentar kulihat pak asep tersenyum kecil, lalu beliau mengatakan lagi “Yo harus siap, sebelumnya anda sekalian pernah berfikir gak berapa dana yang di keluarkan orang tua anda untuk menyekolahkan anda sampai anda menjadi mahasiswa?”

Seketika kelas menjadi hening, aku langsung terbayang wajah ayah dan bunda yang mati-matian mencari dana untuk menyekolahkanku dan adik-adikku,

“Tak terhitung toh, mengapa orang tua rela menghabiskan banyak uang untuk menyekolahkan anda sekalian? Karna mereka ingin melihat kalian sukses dan tak menderita di hari tua”

“Apa kah semakin tinggi pendidikan membuat moral anda sekalian juga menjadi lebih baik? Saya rasa tidak, tk pernah mencontek? Sd pernah mencontek? Smp pernah mencontek? Sma pernah mencontek? Dan anda sendiri lah yang bisa menjawabnya. 

Dan apakah semakin tinggi pendidikan membuat semangat anda juga semakin menggebu gebu untuk belajar? Meningkatkam mutu anda? Saya rasa tidak mungkin hanya 1% dari anda sekalian di sini yang semangat belajar tak pernah turun, maka tak jarang juga anda sekalian membandingkan diri anda yang sekarang dengan anda yang dulu, oh dulu saja kelas 3 SD ranking 1 oh dulu kelas 6 SD ikut olimpiade matematika, dan sekarang?”

Benar kami diam tak berkutik, hening sesaat kemudian pak asep melanjutkan pembicaraan
“Dan apa kesimpulan yang bisa kita ambil? Semakin tinggi pendidikan tak menjamin moral dan mutu siswa bertambah, siapa yang harus di salahkan? Gurukah? Siswakah? Orang tuakah? Metode pembelajaran kah? Sistem pendidikan kah?”

Dan sekarang saya tanya, setelah tamat SMA anda bisa apa? Pertanyaan yang masih terbayang di otak saya sampai sekarang, saya bisa apa?
Kemudian pak asep menunjuk salah satu teman saya Kamu, iya mbak yang itu, mbak kan sudah taman SMA kalau saya suruh buat cv bisa?

Dengan menundukan kepala teman saya menggelengLagiIya kamu, jilbab merah, kalau saya suruh buat makalah tanpa lihat dan copypaste dari google bisa? Lagi teman sayapun menggelengkan kepala

Baik lah sekarang saya tanya lagi, mbak yang di belakang itu, iya berdiri mbak, Mbak itu adalah saya 🙂

Apa saja yang mbak bawak di dalam tas untuk persiapan kuliah?

“Saya menjawab saya membawa perlengkapan alat tulis, handphone dan Al-qur’an pak”Saya di persilahkan duduk kembali, lagi saya cemas apa yang akan di katakan beliau setelah ini, 

Apakah buku kalian semua di sini buku kosong?Kami bersamaan menjawab “Iyaaaa”Kata-kata yang tak pernah saya duga”Iya buku dan otak yang kosong”
Merasa sangat tertampar, tapi memang benar apa yang beliau katakan, dalam hati saya berkata, setelah ini saya harus berubah, saya harus bisa menjawab saya bisa apa setelah SMA, saya harus datang ke kampus dengan otak yang telah di isi oleh pelajaran-pelajaran yang telah saya pelajari sebelumnya, saya ini mahasiswa, saya harus lebih baik dari sebelumnya, saya tidak mau keringat orang tua saya sia-sia, saya tidak mau semakin tinggi pendidikan saya menjadikan saya orang yang moral dan bermutu rendah, saya harus menjadi luar biasa.


Tak terasa 2jam terasa sangat singkat, jam beliaupun telah habis, di akhir pelajarannya beliau menitip pesan.

“Kita sendirilah yang bisa merubah diri kita, jadilah mahasiswa yang punya wawasan luas, jangan takut bersuara, setiap orang berhak menyampaikan pendapat, isi hari-hari kita dengan hal-hal baik, sampai ketemu pada pertemuan selanjutnya saya tunggu smngat mahasiswa yang sebenarnya”


Saya masih memperhatikan beliau sampai tak terlihat lagi, sambil tersenyum tipis, “saya harus berubah”

Ditulis oleh : Efry Wahyuni

Total
0
Shares
Join the discussion

10 + eighteen =

Please note

This is a widgetized sidebar area and you can place any widget here, as you would with the classic WordPress sidebar.