Search
Saya sok tau, itu benar.

Saya sok tau, itu benar.

social circle

Jumat pagi biasanya saya isi dengan menikmati mimpi setelah melewati malam yang penuh akan misteri.

Iya kan sajalah. Biar semuanya ber-akhiran ‘i’. Kebanyakan penulis begitu toh, berusaha menyamakan akhir bunyi vokal, walau terkadang harus mengorbankan makna dari kalimat itu sendiri.

Tetapi, benar. Memang biasanya, saya tertidur ketika pagi. Malamnya saya harus melakukan beberapa pekerjaan yang saya harap kedepannya bisa memberikan dampak kepada saya. Sayangnya, jumat ini saya tidak bisa melaksanakan kebiasaan yang saya lakukan tersebut.

Pasalnya, saya harus menemui dosen pembimbing.

Telah ditetapkan bahwa kami akan bertemu di kampus bukit(palembang). Dan untuk pertama kalinya saya ke Palembang sendirian.

Saya memang tidak suka berpergian jika itu tidak terlalu memaksa. Sayang, buang-buang waktu di jalan.

Sekitar pukul 6 pagi saya sudah keluar dari rumah, tak lupa saya meminta doa dan restu kepada ibu dan ayah saya dengan cara mencium tangan dan pipi mereka. Beberapa orang menganggap kebiasaan saya mencium pipi kedua orang tua saya tiap kali mau izin keluar atau pun pulang adalah hal yang manja. Sayangnya, saya lebih memilih untuk mempersetankan omongan-omongan orang tersebut.

Bung, saya tidak mau, ciuman saya baru mendarat di pipi kedua orang tua saya ketika mereka sudah terbaring tanpa nyawa dengan kain kafan yang mengapit kedua pipi nya. Selagi ada waktu, saya lebih memilih untuk menusukan jarum waktu tersebut ketubuh saya, sebagai pembangkit dan penyadar bahwasahnya, waktu bisa kapan saja mendahului jika kita tidak terus berupaya membersamai. Selagi ada waktu, ciumlah kedua orang tuamu.

Singkat cerita dengan diantar ayah saya menggunakan motor, tibalah saya di kampus indralaya, di sana saya menunggu bus angkutan yang membawa mahasiswa dari indralaya menuju ke kampus bukit.

Karena baru pertama kali saya melakukan perjalan sendiri, tentu bertanya kepada orang-orang disekitar bukanlah hal yang memalukan. Syukurnya, saya tidak sendirian, banyak orang lain yang juga sedang menunggu bus tersebut.

Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, akhirnya busnya tiba. Berbondong-bondong mahasiswa-mahasiswa ini, yang mana saya yakin salah satu diantara mereka juga ada mahasiswa baru yang hendak menemui dosen pembimbing sama seperti saya.

Untungnya saat itu saya kebagian tempat duduk. Sepanjang perjalanan, saya ditemani dengan buku tulisan Ralf Dahrendorf yang berjudul ‘Reflection on the Revolution in Europe’.

Sayangnya, waktu saya membaca tidak terlalu lama. Karena di sebelah tempat duduk saya ada seorang lelaki. Dari penampilan dan cara dia memegang handphone, tentu sangat terlihat dia bisa dibilang bagian dari kaum borjuis. Memperbanyak waktu dengan memanjakan diri, seperti musik, game, dan lain sebagiannya.

Melihat dari cara dia duduk, tentu lelaki ini memiliki kebiasaan menjaga kesehatan yang baik. Lantas kesimpulan yang bisa saya ambil adalah, olahraga juga bagian dari kegiatan yang biasa dilakukannya.

Berkenalanlah kami berdua, dengan tangan kiri yang masih memegang buku dan tangan kanan yang menjambat tangan kanannya seketika itu juga kami saling menyebutkan nama.

Saya bukanlah orang yang mudah mengingat nama, tetapi saya yakin, dia pun juga tidak mengingat nama saya.

Seperti biasanya, setiap ketemu orang baru, fokus pertanyaan saya adalah

Asal mana?

Biasanya disana apa?

Untuk pertanyaan yang pertama, orang-orang baru ini selalu lancar dan sigap dalam menjawab. Namun, untuk pertanyaan yang kedua, kebanyakan orang baru yang saya jumpai tampak kebingungan dalam menjawab.

Ada beberapa kemungkinan, pertama mereka menganggap bahwa saya terlalu kepo. Kedua, mereka tidak mengetahui aktivitas mana yang ingin mereka katakan, Atau yang ketiga, mereka jarang mendengar pertanyaan ini untuk pertemuan awal.

Karena melihat raut muka yang kebingungan, saya memperjelas pertanyannya

“Aktivitasnya di sana apa? maksud saya hobinya.”

Barulah mereka bisa menjawab dengan lancar.

Dan ternyata tebakan saya akan lelaki yang duduk di sebelah saya ini benar.

“Ya biasa, olahraga, main gitar, dan ngegame sih.”

Agar terlihat bahwa saya antusias dengan jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan tersebut, saya lanjut bertanya lagi.

“Musik suka genre apa?”

“Pop, jazz sih..” Jawabnya sambil tersenyum.

Kemudian, saya menutup percakapan dengan memperkenalkan penyanyi yang mana saya telah memikirkan bahwa orang ini tidak mengetahui siapa penyanyinya. Tentu, hal ini ada alasannya. Menunjukan bahwa saya juga menyukai dunia musik.

Selepas dari bercakap, saya melanjutkan membaca. Sayangnya baru beberapa halaman, saya mengantuk. Ternyata saya memang tidak bisa lepas dari kebiasaan saya tersebut.

Lalu, saya menitip pesan kepada lelaki yang duduk di sebelah saya ini

“Bung, kalau saya ketiduran nanti pas sampai tolong bangunin ya.”

Sebenarnya, meskipun saya tidak memintanya saya yakin orang ini akan membangunkan saya juga.

Saya meninggalkan kalimat tersebut, agar tidur saya tidak terkesan seolah saya tidak nyaman berada disampingnya.

Seperti biasanya, tidur diperjalanan memang tidak terasa. Lelaki yang duduk di sebelah saya itu tentunya menjalankan amanahnya dengan baik.

Setelah dia membangunkan saya, turunlah kami dari bus tersebut. Lelaki ternyata ternyata juga mahasiswa baru yang hendak ingin menemui dosen pembimbingnya. Namun, kami berbeda jurusan. Dan sejak dari sanalah kami berpisah.

Bung, ternyata saya terlalu pagi datang. Mahasiswa-mahasiswa baru yang dosen pembimbingnya sama seperti saya belum ada yang datang, baik itu yang tinggal di Palembang maupun Indralaya.

Dan, hal menarik lainnya adalah, mahasiswa-mahasiswa yang dari Indralaya perginya barangan dengan satu bus khusus, pada pukul jam 9 pagi. Sementara saya sudah pergi sejak pukul 6 pagi.

Tetapi tidak apa, kebetulan saya belum mencetak KRS saya.

Berjalanlah saya sambil melirik kekanan dan kiri. Mencari kemungkinan terburuk, dan peluang apa yang bisa terjadi.

Entah mengapa, jiwa saya meminta kopi lagi. Padahal di rumah tadi sebelum berangkat saya sudah meminum kopi.

Maka, sebelum mencari tempat untuk mencetak KRS, saya mencari mini market terlebih dahulu untuk membeli kopi.

Untungnya, mini market yang saya jumpai jaraknya tidak jauh dengan tempat percetakan. Dan selepas saya membeli kopi, saya menuju tempat percetakan tersebut.

Singkat cerita, setelah selesai mencetak KRS, saya kembali ke dalam kampus. Jam sudah menunjukan pukul 9 lewat, tetapi belum ada tanda-tanda mahasiswa baru yang dosen pembimbingnya sama seperti saya telah tiba di kampus bukit.

Dari grup yang berisi mahasiswa-mahasiswa baru dengan dosen pembimbing sama seperti saya, terdapat informasi bahwa nanti kumpul di depan perpustakaan.

Bertanyalah saya dengan orang-orang di sekitar mengenai lokasi perpustakaan tersebut. Cukup lama saya mencari, dan akhirnya ketemu.

Namun, lagi-lagi masih belum ada yang tiba.

Lantas saya memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk mengisi Teka-teki Silang yang memang rutin saya lakukan jika ada waktu luang.

Tempat duduknya tidak terlalu jauh dari perpustakaan. Saya duduk di pojok tempat duduknya. Dan di pojok yang sebelahnya ada bapak-bapak yang belum saya kenal.

Ketika saya sedang asik mengisi tts,(lebih tepatnya memikirkan jawaban) bapak tersebut membuka percakapan.

“Sudah dapat tanda tangan?”

Baik, dari pertanyaan tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa muka saya memang terlihat seperti mahasiswa baru ternyata, maksudnya tidak terlihat tua. Karena beberapa orang menganggap bahwa muka saya muka tua.

Sekitar 6 menit kami bercakap-cakap, datanglah bapak-bapak lain dengan menunggangi motor tigernya.

Bapak tersebut berhenti di depan tempat duduk kami, dia tidak turun dan tetap duduk di jok motornya.

Bercakaplah bapak yang baru datang tersebut dengan bapak yang tadi.

Sambil mengisi TTS, saya mendengarkan dialog kedua bapak tersebut. Ternyata bapak yang baru datang ini juga sedang menunggu anaknya yang menemui dosen pembimbing.

Semakin dalam percakapan mereka, semakin tidak fokus saya mengisi tts. Sejak awal, sungguh jelas bahwa bapak yang sudah duduk dengan saya ini tidak memiliki pola pikir yang sama dengan bapak yang baru datang itu.

Singkat cerita, bapak yang menunggangi motor itu pergi meninggalkan kami berdua. Dengan berpura-pura tidak mendengar saya memutar-mutar pensil tanda bahwa saya sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan tts.

Tidak sampai satu menit, kemudian bapak itu memulai percakapan lagi

“Kau dengar dak omongan bapak itu tadi? aku dak setuju, men anak galak tu yo didukung, ini malah spp nyuruh ke neneknyo yang bayar. Nah wong-wong yang cak itu dan setuju aku, awak dio yang wong tuonyo.”

Saya menjawab, tentu, jelas.

Tetapi, tentu saya akan mengalami sedikit pertentangan pendapat dengan bapak ini. Pasalnya, saya menganggap lingkungan sosial bapak yang duduk di sebelah saya ini dengan bapak yang menunggangi motor tadi, jelas sangat berbeda.

Si bapak yang duduk di sebelah saya ini memiliki pengalaman dalam urusan menguliahkan anak, anaknya sudah dua yang wisuda, selain itu bapak ini juga dari kalangan yang berpendidikan, tentu saya merasa wajar apabila pola pikir bapak ini begitu.

Sementara itu, bapak yang menunggangi motor tadi adalah seorang marbot masjid, saya rasa dia salah langkah ketika masih muda. Soalnya, ibu dan ayahnya merupakan PNS, saudara-suadaranya semuanya kuliah, sementara dia tidak.

Lantas saya menjawab begini

“Iyo pak, aku setuju, memang tugas wong tuo untuk mempertanggung jawabi kebutuhan anak.” Jawab saya dengan masih menahan opini saya

“Nah itulah, ini malah nyuruh neneknyo yang mayar segalo-galonyo.” Timbal bapak itu lagi

Saya mulai memainkan dialog opini saya

“Tapi yo pak, kuraso wajar kalo kerangka bepikir bapak itu cak itu. Yo kito jingok di lingkungan sosialnyo, bapak itu marbot masjid, yang mano mungkin dikit kalangan orang-orang yang membahas pendidikan. Mano lagi, kato bapak itu dio dewekan di antara saudaranyo yang dak sekolah. Berarti memang lingkungan dio yang cak itu sudah dibentuknyo sejak mudo.”

“Nah iyo, jelah nian, memang lah dari bapak itu.” Jawab si bapak seolah sedang berbicara dengan orang yang seumurannya.

Saya melanjutkan

“Mano lagi, karena bapak ibuknyo pns, berarti ado dana pensiun, jadi dio nyerahi anaknyo ke wong tuonyo.”

“Iyo, spp tu kan biso didiskusikan dengan pihak kampus, men sekiro keberatan biso ngomong dengan dekanatnyo.” nada bapak itu semakin membuat percakapan kami mengalir

“Sayangnyo, kuraso pas daftar, dio ngisi gaji bapak ibuknyo, bukan gaji dio. Jadi dak biso ngelak dari spp.”

“Nah, itu dio, itu kesalahan dio.” Bapak itu mengucapkan ‘nah’ nya sangat bersemangat, seolah setuju dengan pendapat saya itu.


Baik, saya rasa sebatas itu saja saya menceritakan dialog kami. Yang jelas, melalui tulisan ini, saya semakin sadar, menanggapi lawan bicara apalagi orang baru akan lebih baik apabila kita berusaha mengetahui bagaimana cara berpikir mereka.

Di atas saya sudah menuliskan dua pertanyaan yang biasa saya ajukan untuk orang baru. Tentu, dari dua pertanyaan tersebut saya sedikit bisa mengetahui bagaimana cara dia berpikir karena lingkungan dan kegiatannya sehari-hari.

Bapak yang duduk di sebelah saya ini, hampir lupa, bahwa lawan bicaranya adalah orang baru, yang tidak memiliki pola pikir yang sama dengan dia.

Saya setuju dengan bapak itu, memang tugas kita sebagai orang tua untuk mendukung keinginan anak apa lagi yang berbau positif. Sayangnya, bapak itu tidak memandang jauh.

Maksud saya, dia tidak melihat profesi, lingkungan sosial, dan kebiasaan yang biasa dilakukan si bapak penunggang motor tadi.

Akan tetapi, saya sangat bersyukur. Si bapak yang duduk di sebelah ini tampak enjoy menanggapi saya.

Memang rata-rata seperti itu sih, kalau saya bercerita dengan orang yang lebih tua, pasti ceritanya asik dan semasukan.

Beda halnya apabila saya berdialog dengan orang yang seumuran atau lebih tua sekedar 1-2 tahun. Mereka pasti menganggap bahwa saya sok dewasa, dan sok kritis. (mereka yang bilang sendiri.)

Semakin tertarik lah saya melanjuti imajinasi saya ketika saya duduk di bangku kelas dua sma dulu. Di mana, saya ingin membuat konsep mengenai cara berpikir manusia melalui lingkungan-lingkungan sosialnya.

Hehe, saya memang sotoy ya, dan yang diperbincangkan orang itu juga benar, saya sok dewasa, saya sok kritis, karena tentu orang tersebut tidak menerapkan inti dari pembahasan artikel ini ketika berdialog dengan orang.

Salam.

Total
0
Shares
Join the discussion

3 × 1 =

1 comment

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.