Search
Perihal Ikhlas

Perihal Ikhlas

perihal ikhlas

Pernah, pada suatu keadaan. Saya harus berhadapan dengan keinginan untuk menulis namun pada akhirnya bingung harus menulis apa. Sebenarnya, hal semacam ini umum terjadi. Sebelum-sebelumnya, juga sering saya alami.

Bedanya kali ini, rasa bingung saya bukan diciptakan karena ketidak mampuan otak saya menciptakan ide untuk bahan tulisan.

Melainkan, keadaan hati mana yang harus saya turuti untuk dituangkan dalam tulisan.

Sejujurnya, banyak sekali perubahan yang saya alami saat ini. Mulai dari orang-orang yang saya sayangi perlahan satu demi satu meninggalkan, hingga permasalahan kesehatan.

Pada dasarnya, saya sudah sadar bahwa hal semacam ini nantinya akan terjadi. Sayangnya, saya masih terlalu naif untuk mengikhlaskan.

Berbicara mengenai keikhlasan. Saya jadi ingat cerita mengenai Sokrates yang dihukum mati.

Pada tahun 399 SM, Sokrates ditahan dengan tuduhan melanggar susila dan merusak kaum muda.

Beberapa sumber mengatakan bahwa hal itu hanya sebuah tuduhan dari seorang demokrat terkemuka yang bernama Anytus. Dakwaan terhadap sokrates itu jelas hanya pura-pura, namun tuntutannya dapat berupa hukuman mati.

Tentu saja tuntutuan itu tampak berlebihan. Sudah pasti Sokrates tokoh yang tidak popular, seperti intelektual lain yang mengajukan sejumlah prinsip yang tidak popular. Tetapi hukuman mati? Untuk seorang kakek berusia tujuh puluh tahun?

Singkat cerita, Sokrates diputuskan untuk dihukum mati dengan cara meneguk racun.

Pada hari dimana Sokrates akan dihukum mati, teman-teman sokrates bersama istrinya, Xanthippe, berkumpul di ruang penjara. Kemudian Sokrates menyuruh Xanthippe keluar karena ia tidak ingin suasana berubah menjadi emosional.

Maksud emosional di sini lebih mengarah pada kesedihan. Sokrates tidak mau melihat secara langsung raut muka penuh kesedihan dari istrinya tercinta.

Sambil pergi meninggalkan mereka, Xanthippe memprotes, “Kamu kan tidak bersalah!”

Disisa-sisa waktunya, Sokrates masih saja bijak. Dengan penuh wibawah, Sokrates menjawab,

“Apakah kamu akan lebih suka kalau aku bersalah?”

Keikhlasan macam apa ini? Sudah dituduh, dihukum mati, tapi sokrates memberikan sisi keikhlasan yang begitu luar biasa.

Bahkan, menurut riwayatnya Sokrates sempat melontarkan lelucon ketika hendak meminum mangkuknya yang berisi racun.

Ia bertanya, “Bagaimanakah cara meminumnya?”
“Pokoknya, minum saja,” jawab si pengantar mangkok racun.

“Kalau sudah, berkelilinglah sejenak sampai kaki Bapak terasa letih. Selanjutnya, Bapak tinggal berbaring, racun akan melaksanakan tugas berikutnya.”

Kemudian Sokrates kembali menjawab
“Apakah aku diizinkan memerpesembahkan sebagian isi mangkok ini untuk para dewa?”
“Tidak. Jangan sisakan sediki pun. Kalau minumnya kurang, ada kemungkinan racunnya tidak bekerja sempurna.”

Ketika pertama kali saya membaca dialog tersebut, perasaan saya dibuat campur aduk. Harus merasa lucu kah, harus iba kah, atau saya harus berkelana mencari sisi bijaknya.

Lantas, mengapa tidak ketiganya saya padukan.

Hingga pada akhirnya, dari cerita Sokrates yang ditulis oleh Paul Strathern tersebut saya menyadari, bahwasahnya ikhlas tidak selamanya berkaitan erat dengan waktu.

Kita, atau barangkali saya, selama ini menganggap ikhlas itu memerlukan waktu. Semisal, kita kehilangan barang, mungkin perlu beberapa hari atau bahkan beberapa bulan untuk mengikhlaskan barang tersebut.

Sokrates dengan kebijaksanaannya menganggap semua yang telah menimpanya seolah sudah menjadi suratan sang pencipta. Barangkali, Sokrates sadar. Untuk manusia yang menyebarkan pemahaman semacam dirinya memang layak untuk dihukum mati.

Apa pun itu, Sokrates betul-betul ikhlas menjalani semua tuduhan dan hukumannya.

“Tapi, saya rasa Istri dan teman-teman Sokrates tentu tidak secepat itu mengikhlaskannya, karena kondisinya di sini Sokrates yang meninggalkan. Jadi yang perlu diuji keikhlasannya adalah orang yang ditinggalkan. Bukankah begitu?”

Yap, betul sekali. Itu lah yang saya pikirkan.

Ketika kita memutuskan untuk meninggalkan, rasa berat hanya terjadi untuk sebuah bahan pertimbangan. Tetapi orang-orang yang kita tinggalkanlah yang akan mengalami semua penderitaan kehilangan.

Kita yang meninggalkan memang akan mengalami perasaan kehilangan juga. Tetapi sebagai pembuat keputusan, tentunya hal semacam itu sudah dipikirkan hingga pada akhirnya terciptalah keputusan untuk meninggalkan.

Jadi apa kesimpulannya?

Kehilangan, Waktu, serta Mengikhlaskan. Adalah tiga rahasia alam semesta yang begitu luar biasa.

Mau seperti apapun keadaannya, kita harus siap merasakan kehilangan. Toh waktu sudah berbicara, kita sebagai manusia tentunya tidak bisa melakukan tawar menawar bersama waktu.

Memang, ikhlas tidak semudah itu.

Karena, ikhlas bukan sekedar melepas. Tetapi juga bagaimana caranya kita memaknai keikhlasan tersebut.

Total
0
Shares
Join the discussion

three × two =

4 comments

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.