Menulis adalah cara saya dalam menertawakan diri sendiri

Menulis adalah cara saya dalam menertawakan diri sendiri

Minggu, 19 April 2020. Saya mendapatkan notif pesan dari rekan saya, Bung Gilang.

Pesan itu muncul sekitar ba’da isya. Yang menarik adalah ia membumbui pesan tersebut dengan kalimat “Balas, penting.”

Haha, Bung Gilang cukup sadar diri ternyata. Sebab selama ini jika ia mengirim pesan memang topiknya tidak ada yang berbobot. Paling-paling menuturkan bahwa ia kangen. Meski sedikit ilfil, tapi harus saya akui saya suka mendapatkan pesan darinya seperti itu. Haha.

Singkat cerita setelah saya balas, ia mengirim pesan kepada saya berupa voice note. Di voice note tersebut ia meminta saya untuk menscrenshoot tulisan saya yang terkait dengan agama dan kemunafikan manusia.

Kalimat dia memaksa saya untuk mengingat-ngingat, tulisan mana yang ia maksud.

Karena Gilang, saya jadi membuka kembali tulisan-tulisan lama. Saya pun melakukan pencarian di blog pribadi saya. Setelah melakukan pencarian hingga ke halaman tujuh, saya pun mendapati tulisan mana yang ia maksud.

Ternyata tulisan yang ia maksud adalah tulisan saya yang berjudul “Peranan Agama dalam Hukum dan Kehidupan.

Saya menulis artikel tersebut ketika masih SMA. Saya membacanya dari awal sampai akhir, dan entah mengapa tulisan itu berhasil membuat saya tertawa kecil di sepanjang saya membacanya.

Hal ini sebenarnya pernah saya tuturkan saat SMA dulu.

Suatu saat saya akan menertawakan tulisan saya sendiri.

Ternyata betul, semua terjadi.

Saya tertawa bukan karena malu atas tulisan saya yang dulu. Saya tidak pernah malu atas apa-apa saja karya yang pernah saya buat.

Yang membuat saya tertawa sebenarnya lebih kepada ketidakmenyangkaan bahwa saya pernah menulis dan berpikir seperti itu.

Saya mengalami writer block lebih dari dua bulan. Jika kita saling terkoneksi di instagram, mungkin teman-teman tahu tentang project saya yang sonitoxin itu?

Sebenarnya salah satu alasan mengapa saya menerima project tersebut karena saya mengalami writer block. Saya sudah berusaha menulis, namun semakin saya paksa, semakin besar potensi saya gagal dalam menulisnya.

Dan itulah penyebab mengapa saya sudah lama tidak menulis di blog personal ini.

Hingga pada akhirnya saya baru menyadari, bahwa yang membuat saya kerap mengalami writer block adalah karena saya lupa untuk lebih jujur dalam menulis.

Menulis adalah saat terbaik untuk kita jujur, dan menulis dengan jujur merupakan metode terbaik bagi saya ketika menulis.

Semakin kita jujur dalam menulis, semakin berpotensi besar untuk kita menertawakan tulisan tersebut di kemudian hari.

Dan metode jujur dalam menulis tersebut kerap saya jadikan jawaban apabila ada orang yang bertanya bagaimana caranya menulis. (Meskipun saya juga masih terus belajar dalam dunia tulis menulis.)

Untuk memancing kejujuran dalam menulis bukanlah perkara yang mudah, dan barangkali itulah penyebab mengapa terkadang menulis memiliki kerumitannya tersendiri.

Namun jika teman-teman ingin belajar menulis, cobalah dengan menulis jurnal harian atau diary.

Dengan memiliki jurnal harian kita akan belajar bertanggung jawab, bahwa kita memiliki cerita yang harus dituliskan setiap harinya.

Jaga jurnal itu baik-baik. Jangan sampai ada yang membacanya. Karena di dalam jurnal tersebut kamu harus betul-betul jujur, dan tidak boleh berkhianat dengan diri sendiri.

Memiliki jurnal juga cara yang baik untuk lebih mengenali diri sendiri.

Nanti seiring berjalannya waktu, akan muncul gairah dan keinginan agar tulisan kita itu dibaca. Dan itulah saatnya untuk kita berani mempublish tulisan kita.

Menulis bagi saya bukan sekadar untuk meluapkan kata-kata, bukan sekadar hasil produksi senggama saya dengan kopi. Tapi lebih dari pada itu, menulis adalah cara saya dalam menertawakan diri sendiri.

Dalam menulis kita berjumpa dengan diri kita yang lainnya. Kemudian pada setiap kata dan baris kalimat yang berhasil kita produksi, diri kita yang lainnya itu semakin menekan untuk mencoba bergabung dan masuk agar kita bisa menjumpai diri kita yang utuh.

*Kita lihat nanti, apakah kamu akan menertawakan jurnal yang kamu tulis sekarang di kemudian hari?

Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

8 − 6 =

Tri Bintang Utama

Founder of Islamiah.id
Founder of Bingungonline.com

Pinterest Profile