Ku kecup bibirmu diamuk rindumu

Ku kecup bibirmu diamuk rindumu

Kukecup bibirmu di amuk rindumu

Betul dan sangat ku idam-idamkan. Sebuah perjalanan panjang yang hanya kita berdua sebagai objek ceritanya.

Kita berjalan dibalik gelap, menjadikan bulan sebagai petunjuk. Kita tersesat, tapi yang kita sepakati bersama-sama adalah, bahwa kita sama-sama berharap tidak pernah menemukan jalan pulang.

Aku melihatimu, mulai kelelahan, mulai letih, mulai hilang kegirangannya. Entah karena malu atau karena tidak ingin aku memberhentikan perjalanan kita, kau selalu mencari-cari cara untuk menetupi letih mu itu. Tapi yang kau lupa adalah, bahwa kau selalu tidak pernah bisa berhasil menipuku.

Kita berhenti sejenak, yang kebetulan dibawah pohon tua. Sinar bulan diam-diam merasuk kematamu. Oh, biadab. Malam itu aku jatuh cinta kepadamu, yang untuk kesekian kalinya.

Aku mencoba masuk kedalam tatapanmu. Dan baru kali ini aku melihatmu berani menatap balik tatapanku.

Kemudian yang entah datang dari mana asalnya, muncul senandung lagu Louis Armstrong, A Kiss To Build A Dream On.

Dan itu betul-betul semakin mendorong ku untuk mendekatkan bibirku ke bibirmu.

Kuangkat dagumu dengan tangan kiriku, sinar bulan itu menghilang bersamaan dengan matamu yang mulai terpejam. Seakan kau menginginkan aku mempercepat prosesnya.

Entah mengapa kepalaku meneleng dengan sendirinya.

Aku memejamkan mataku, merasakan nafasmu, dan kucium bibirmu.

Sepertinya bibirku mendarat dengan baik di bibirmu. Aku pastikan itu. Karena kau langsung merespon bibirku juga.

Lagu Armstrong terasa semakin keras volumenya, jantungmu berdegup begitu kencang, nafasmu semakin memburu.

Tanganmu mulai merangkul leherku, membuat suasana kita semakin hangat.

Hingga empat puluh sembilan detik berlalu, aku menggigit lidah mu dengan keras, kau berusaha berteriak, tapi tidak bisa.

Kemudian ku ambil pisau yang kuselipkan di celanaku, dan kutusukan pisau itu di tengkuk lehermu.

Matamu terbelalak menatapku, kulepaskan lidahmu yang tadi kugigit.

Kutusukan lebih dalam lagi secara perlahan, suara pisau yang bersua dengan dagingmu itu begitu indah kudengar. Bahkan lebih indah dari lagu Armstrong.

Hingga pada akhirnya aku menyaksikan pisau itu tembus di lehermu.

Aku suka melihat matamu yang terbelalak dan bajumu yang mulai dibasahi dengan darah.

Seakan-akan kau berkata

Kau telah mencintaiku dengan begitu sempurna.

Kucabut pisau yang masih kupegang dan kubaringkan kau dibawah pohon itu.

Aku mengelus-elus rambutmu, dan kukecup lagi bibirmu di amuk rindumu.

Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

2 × 5 =

Tri Bintang Utama

Founder of Islamiah.id
Founder of Bingungonline.com

Pinterest Profile