Search
Kalau mau Hancur, ya Mudah Saja!

Kalau mau Hancur, ya Mudah Saja!

kalau mau hancur mudah saja

Pagi itu, masih dengan semangat untuk kuliah yang menggebu, saya di antar ayah saya(sebenarnya saya memanggilnya papa) menggunakan motornya ke kuliah.

Ini adalah saat yang paling saya tunggu-tunggu, lantaran saya baru saja usai menyeruput kopi yang terkadang saudara perempuan saya yang membuatkannya dan terkadang ibu saya yang membuatkannya. Dari kopi itu, entah karena buatan yang penuh akan kasih sayang atau memang saya yang liar mencumbu kopi, harus saya akui pikiran saya menjadi lebih jernih dan lebih tenang, meskipun ini agak berlebihan.

Embun kemarau yang semakin mengganas tidak membuat semangat saya dan semangat ayah saya melebur. Seperti biasanya, saya memulai percakapan di atas motor itu.

Ayah saya sengaja memperlambat laju motornya, karena ia tahu, bahwa saya suka mengajukan beberapa pertanyaan ketika berdua dengannya.

Memang akhir-akhir ini saya sering mengajukan pertanyaan mengenai hubungannya dengan istrinya, intinya pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pada kekeluargaan.

Karena merasa aneh, ayah saya bertanya

“Ngapo kau ni nanyo soal keluargo terus, lah nak bebini apo?” Tanyanya dengan bahasa Palembang tetapi dengan logat Jawa.

Sayangnya, saat itu saya tetap bersikeras untuk menanyakan hal yang sudah lama ingin saya tanyakan ini.

Maka mulailah dialog kami

“Pa, papa kan tau mama tu cerewet, dikit-dikit marah, egois, nak menang dio tulah, molot besak, ngapolah papa masih bertahan dengan mama?” (kurang ajar sekali ya saya,haha)

Baik, sejenak ayah saya terdiam. Mungkin saat itu dia hendak menghirup udara pagi yang perlahan sudah mulai bercampur dengan populasi kendaraan-kendaraan yang lalu lalang.

“Nak, papa tu mekeri anak-anak, papa sebagai kepala rumah tangga memang sudah jadi kewajiban untuk cak itu, kalu papa dak ngalah, kalu papa dak diam bae, pasti bakal tambah jadi masalahnyo.”

Sejenak dia berhenti, dan kemudian melanjutkan lagi.

“Kalu nak hancur tu mudah, tapi nak mempertahankan itu yang susah. Karena papa lah paham kalu mama kau tu cak itu, yo papa yang harus mengimbangi, papa yang harus ngalah, walau sebenarnyo papa jugo sakit hati. Tapi semua demi keutuhan keluarga, papa dak galak kito hancur.”

Ayah saya memang suka memainkan tempo dalam berbicara, berhenti dia sejenak, mungkin disuruhnya saya memahami terlebih dahulu kata-katanya itu.

“Meskipun mama kau cak itu, tapi caro dio ngededek anak-anaknyo bagus, marah bukan semata-mata marah, dio nak anak-anaknyo jadi wong sukses galo. Kalu bukan karena mama kau, dak mungkin kamu tu tekuliah galo, dak mungkin kamu tu biso makan setiap hari, dak mungkin kebutuhan-kebutuhan biso terpenuhi.”

“Memang, papa yang nyari duit, tapi kalu bukan karena mama kau dak mungkin duit itu biso panjang. Jadi janganlah kau nak muat mama kau nangis terus, kau boleh nyakiti papa, kau boleh melawan papa, tapi tolong jangan dengan mama kau.”

Dan dari sanalah saya semakin salut dengan ayah saya. Bukannya ikut nimbrung mengatai, ayah saya justru tak henti-henti memuji istrinya, padahal saya tahu dia juga sebenarnya terkadang jengkel. Sesayang itu dia dengan istrinya.Haha.

Ucapan yang saya rasa paling romantis yang pernah saya tuturkan kepada orang tua saya adalah ketika saya mengatakan kepada ayah saya

“Pa, papa tu ngapolah begawe teros, cak dak galak istirahat, waktu lebor ngajar di sekolah, di rumah bukannyo istirahat malah ngucak ini ngucak itu. Aku laju tebayang men aku agek jadi wong tuo, pasti aku dak biso cak papa. Nak sepintar, nak sehebat apo pun aku, pasti dak akan pernah biso ngalahi atau bahkan setidaknyo nyamoi papa.”

Dari perkataan saya tersebut, sepertinya dia juga tersentuh.

Malam-malam, berceritalah dia dengan mama dan saudara-saudara perempuan tua saya mengenai perkataan saya tersebut.

Agaknya dia menganggap saya sudah tidur. Saya memang pandai pura-pura tertidur.

Ya, tapi memang benar. Saya tidak akan pernah bisa seperti ayah saya. Tentu kami memiliki banyak sekali perbedaan. Apa lagi soal urusan wanita.

Tentu saya tidak bisa seperti ayah saya, saya tidak bisa terus-terusan mengalah. Yang ada malah wanita egois saya balas juga dengan keegoisan tersebut.

Terkadang saya bertanya-tanya, mengapa wanita selalu meminta untuk dimengerti, tanpa mencoba untuk turut mengerti pasangannya. Bertanyalah juga saya pada diri saya sendiri. Mengapa kesan egois dan penuh akan kegengsian selama ini kita anggap memang sudah kodratnya wanita.

Ah sudahlah.

Tapi, saya tertegun dengan perkataan ayah saya yang tepat saya jadikan judul pada tulisan ini

“Kalau mau hancur ya mudah saja.”

Dari perkataan tersebut, tentu sangat tergambar jelas yang mengartikan bahwa untuk sabar, untuk mengalah, untuk mempertahankan keluarga, memang bukan kewajiban. Tetapi sebuah jalan yang memang selayaknya ditempuh oleh kepala keluarga.

Bagaimana pada akhirnya saya nanti, bisa kah saya meredam emosi, cemburu, rindu, hanya untuk mempertahankan hubungan. Tentu tidak bisa. Tapi, saya rasa, tidak ada salahnya untuk dicoba.

Namun, tentu untuk mempertahankan hubungan, apa lagi yang sudah bertitle suami istri diperlukannya sama-sama mengerti.

Meskipun ibu saya egoisnya tinggi, tapi dia juga romantis. Dia selalu mendidik anak-anaknya, khususnya saudara perempuan tua saya.

“Ingatlah, sebelum kamu nak makan, piringi lah dulu lauk khusus buat papa kau, jangan di ucak-ucak, kagek dio balek capek-capek pacak tinggal makan.”

Ya, itu hanya sebagai contoh. Tentu, ibu saya memang pandai menyembunyikan romatisnya.

Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa, wanita juga perlu memilah kapan dia harus meroketkan keegoisannya, dan kapan dia harus memendamnya.

Jangan selalu meminta untuk dimengerti, kita perlu bertanya-tanya pada diri sendiri, sudah layak kah saya mendapatkan manja nya?

Tak terasa, sampailah kami.

Di pinggir jalan itu, saya sujud dan saya cium pipi ayah saya. Orang-orang yang berlalu lalang mungkin menganggap

“Dasar manja, awak lanang!”

Haha, bung. Persetan, tentu sangat saya akan persetankan. Silahkan baca tulisan ini, bung

Saya Sok tau itu Benar!

Kesimpulannya sudah dijelaskan pada judul tulisan ini.

Bung, kalau mau hancur mudah saja.

Total
0
Shares
Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

6 − one =

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.