Search
Generasi Milenial Sebagai Agen Reposisi Koperasi

Generasi Milenial Sebagai Agen Reposisi Koperasi

Saya jadi ingat ketika saya masih kecil dulu. Ibu-ibu yang ada di desa kami begitu antusias dengan koperasi. Hal ini dikarenakan koperasi menjadi salah satu cara untuk mendapatkan modal.

Nantinya modal tersebut digunakan untuk menjalankan usaha mereka. Ada yang dijadikan untuk membuka toko, ada yang dijadikan modal untuk bisnis pempek, hingga modal untuk usaha songket.

Seiring berjalannya waktu, metode mendapatkan modal melalui koperasi mulai diabaikan. Saat ini sedang marak-maraknya mencari modal melalui sponsor, investor, dan lain sebagiannya.

Sayangnya, pengabaian terhadap koperasi ini perlu diperhatikan kembali. Mengingat bahwa untuk mendapatkan sponsor dan investor bukanlah pekerjaan sehari dua hari.

Setidaknya kita harus memiliki amunisi untuk membuat calon investor tertarik untuk menanamkan modalnya dibisnis kita.

Berbicara mengenai koperasi, terlintas nama Pak Hatta di dalam benak saya. Yang mana, beliau sendiri merupakan Bapak Koperasi Indonesia.

Perjalanan koperasi di Indonesia sendiri pertama kali ditandai dengan terjadinya kongres di Tasikmalaya pada 11-14 Juli 1947.

Salah satu keputusan dari kongres tersebut adalah menetapkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi Indonesia.

Source : pedomanbengkulu.com

Jumadi, DR., S.E., M.M selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Widya Mataram menyebutkan bahwa proses pendirian koperasi di Indonesia tidak mengalami proses perjuangan dan tantangan.

Dalam perkembangannya koperasi memang menjadi beragam, tetapi praktek kolektivisme koperasi tidak betul-betul terjadi. Sehingga gerakan koperasi ini hanya sebatas jargon belaka, yang dalam hal ini marak disuarakan oleh pemerintah.

Beliau juga menuturkan bahwa banyak pihak lebih memilih untuk membentuk yayasan ketimbang membentuk koperasi. Karena dengan begitu bisnis yang dijalankan yayasan akan terhindar dari pajak. Sementara itu bila badan usahanya berbentuk koperasi, hal itu akan menghambat penumpukan kekayaan yang dilakukan oleh segelintir orang.

Memang akhir-akhir ini istilah koperasi sudah jarang terdengar. Apa lagi dikalangan Generasi Milenial.

Seperti yang kita ketahui bahwa Generasi Milenial merupakan mesin penggerak untuk revolusi industri 4.0 dan mau tidak mau koperasi juga harus ikut serta di dalam revolusi itu.

Agaknya akan lebih bijak apabila ide-ide inovasi mengenai pembaharuan terhadap koperasi itu hadir dari kalangan Generasi Milenial itu sendiri.

Hal ini tidak luput dari upaya agar koperasi bisa tetap bersinar dan membersamai lajunya Revolusi Industri 4.0

Oleh sebab itulah, Generasi Milenial harus ikut terlibat dalam perjalanan koperasi di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah kaum milenial yang ada di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 23,77% atau sekitar 64 juta lebih dari total populasi yang ada di Indonesia.

Menurut Firdaus Putra Aditama selaku COO Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun) Group, potensi besar kaum milenial itu harus dimanfaatkan. Tentunya tidak semua kaum milenial, tetapi kaum milenial yang memiliki talenta.

Saya yakin ada banyak generasi milenial di Indonesia yang memiliki potensi serta talenta. Lebih-lebih dalam bidang kewirausahaan.

Di lingkungan saya sendiri, banyak pemuda-pemuda yang memiliki gagasan ide untuk berbisnis, sayangnya terkendala dengan modal.

Tidak terkecuali dengan saya.

Saya pribadi sedang mengembangkan dua website. Pertama bingungonline.com yang fokus membahas seputar dunia teknologi, komputer, dan digital marketing.

Selanjutnya ada Islamiah.id website ini fokus menjadi tempat di mana orang lain berkesempatan untuk menulis tentang islam di website tersebut.

Sayangnya, untuk pengembangan lebih lanjut saya terkendala dengan modal.

Berbagai macam cara saya lakukan untuk mendapatkan modal, tetapi seperti yang saya tuliskan di atas, untuk menggaet sponsor tentunya kita perlu menyiapkan amunisi terbaik untuk membuat mereka tertarik.

Metode mendapatkan modal melalui sponsor dan investor ini memiliki kelemahan tersendiri, yaitu tidak bisa didapatkan untuk dijadikan sebagai modal awal.

Sementara itu, para generasi milenial yang memiliki ide dalam berbisnis biasanya selalu terkendala pada modal awal.

Dan koperasi yang seharusnya bisa digunakan untuk mendapatkan modal, diabaikan begitu saja.

Sebenarnya bukan diabaikan, tetapi lebih kepada kurangnya informasi terhadap koperasi itu sendiri.

Saya rasa, bukan hanya perihal sistem dari koperasi yang bersifat kuno, tetapi juga informasi mengenai koperasi terhadap generasi milenial ini begitu sedikit.

“Ah, generasi milenial emang gitu. Tidak mau membaca buku mengenai koperasi. Sibuk bermain gadget saja..”

Saya menganggap bahwa, sebenarnya bukan soal seberapa malasnya generasi milenial terhadap membaca itu sendiri. Tetapi ada bacaan-bacaan yang lebih menarik untuk di baca.

Jadi saya rasa menggencar-gencarkan untuk menyuruh generasi milenial membaca soal koperasi itu kurang optimal.

Bukan hanya itu saja, ketika saya mencari informasi mengenai Koperasi Zaman Now banyak opini-opini dari netizen untuk membuatkan koperasi menjadi berbasis digital. Seperti membuatkan aplikasi koperasi.

Source : Freepik.com

Harapnya, dengan ada aplikasi koperasi itu akan membuat generasi milenial mau terjun ke dunia koperasi.

Harus saya akui, hal itu memang merupakan gagasan brilian. Tetapi terlepas dari dibuatnya aplikasi koperasi digital saya rasa diperlukannya pemberian informasi dan pengajaran mengenai koperasi kepada milenial.

Perlu adanya tindakan pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang yang berpengalaman terhadap bidang koperasi untuk mengajarkan dan memberi tahu banyak perihal koperasi kepada generasi milenial.

Semisal mengadakan seminar dan pelatihan.

Source : Freepik.com

Tetapi saya menekankan agar pelatihan tersebut tidak hanya menarik perhatian generasi milenial untuk sekedar mendapatkan sertifikat saja, ada ilmu yang betul-betul diberikan di sana.

Diajarkan bagaimana sistem dari koperasi itu, dan berikan sedikit pacuan untuk menantang generasi milenial menciptakan solusi agar koperasi tidak terdengar kuno. (Setau saya, dan pengalaman saya pribadi, generasi milenial suka ditantang, jadi tidak ada salahnya memberikan pacuan semangat itu)

Untuk membuat generasi milenial semakin tertarik terhadap koperasi, barangkali tidak salah jika dibentuk agen khusus yang berisikan sekumpulan generasi-generasi milenial yang memiliki titik fokus utama yaitu menghidupkan koperasi di kalangan mereka.

Source : Freepik.com

Meskipun penggeraknya adalah generasi milenial, tetap diperlukan pengawas dan pembimbing dari para profesional atau yang sudah berpengalaman banyak mengenai koperasi.

Sehingga dengan begitu, jalannya koperasi yang ada pada generasi milenial ini tetap diawasi dan terkendali dengan baik.

Nah, ketika lingkungan koperasi di generasi milenial itu sudah terbentuk, biasanya generasi milenial akan saling mengajak sesama mereka.

Karena yang mengajak adalah sesama mereka, tentu akan meningkatkan ketertarikan untuk ikut bergabung. Beda halnya jika yang mengajak adalah orang tua, hanya sedikit yang berminat, bahkan segan untuk sekedar bertanya.

Ketika lingkungan koperasi di kalangan milenial itu betul-betul hidup dan terkelola dengan baik, banyak milenial-milenial yang berhasil menjalankan ide bisnisnya karena sudah mendapatkan modal dari koperasi itu sendiri.

Karena modal dari koperasi Ide-ide kreatif dan inovatif dari milenial bisa terwujud, Sehingga dapat mensejahterakan dan memajukan bangsa.

*****

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh Praja Multi Inti sarana Group

Total
0
Shares
Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

5 × 4 =

2 comments

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.