Search
Ah, Dasar Anti Sosial!

Ah, Dasar Anti Sosial!

Semakin banyak saya mengenal orang baru, semakin bangga saya dengan keindividualisan saya. Sayangnya orang-orang menganggap bahwa individualis itu pasti anti sosial, tertutup, dan tidak mau berkerja sama. Padahal tidak semuanya bisa dijadikan fakta.

Saya pribadi bukanlah orang yang anti sosial, lebih tepatnya saya siap terbuka dan bersedia untuk beradaptasi. Tetapi beberapa orang mengenal saya sebagai tipikal pemuja individualis. Dan saya membenarkan hal itu.

Saya pun tidak tahu, apakah nanti akan ada orang yang mampu membuat saya menjadi nyaman untuk bekerja sama dengan dia? atau memang saya tertakdir untuk menjadi orang yang individualis

Menjadi orang yang individualisme membuat saya menjadi lebih bebas dan lepas dalam mengerjakan sesuatu. Contohnya seperti website-website saya. Mengerjakannya tanpa kekangan, tanpa perbedaan pemikiran, sungguh begitu membuat saya nyaman.

Hingga pada suatu hari, saya ditegur oleh ayah saya.

“Kenapa kamu tidak mengajak orang lain untuk mengurus website-website mu. Tidak usah jauh-jauh, ajak saja saudari-saudari mu.”

Sejujurnya saya heran dengan ayah saya. Mengapa dia menuturkan hal itu, padahal dia paham betul bahwa saya adalah tipikal orang yang sulit untuk bekerja bersama dengan orang lain, sekalipun itu adalah keluarga saya sendiri.

Masih dalam konteks yang sama, saya juga heran kenapa orang-orang suka bangga sekali menuturkan

“Kalau dia itu kawan beneran, dia tidak akan pergi ketika kita sedang susah.”

Menahan tawa, begitulah saya ketika mendengarkan orang-orang mengucapkan hal itu.

Dari kalimat itu, harus saya akui terdapat susunan kata yang rapi untuk sebuah ketidakpercayaan.

Pertama, kita tidak percaya kepada teman-teman kita. Toh, sebenarnya hal semacam itu tidak perlu di utarakan, karena untuk hadir ketika kita susah tidak perlu harus menjadi teman.

Lagian, apa salahnya jika mereka pergi ketika kita susah?

Kedua, dari kalimat itu artinya kita tidak percaya kepada diri kita sendiri.

Kita secara bangga memberikan kepercayaan dan ketergantungan kita kepada teman kita sehingga menuturkan kalimat tersebut.

Seolah tidak yakin bahwa kita tidak bisa melalui masa-masa sulit itu seorang diri.

Dan barangkali, dari hal ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa hal yang membuat saya menjadi nyaman dengan keindividualisan ini adalah tidak terikat pada kalimat itu.

Saya sadar, bahwa saya harus bisa melewati masa-masa sulit tanpa harus mengandalkan teman yang datang.

Kasihan, nanti kapal saya keburu tenggelam ketika menunggu teman-teman yang masih ditepian pantai.

Saya begitu sedih apabila ada orang yang menarik kesimpulan bahwa saya melalui tulisan singkat ini mengajarkan dan mengajak untuk menjadi orang yang individual serta tidak mau bekerja bersama orang-orang.

Karena poin penting yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini adalah

  1. Jangan terlalu berlebihan dalam mengharapkan orang lain hadir ketika kita susah. Sekalipun itu orang yang paling kita sayang, dan orang yang paling kita percaya. Percayalah dan latilah diri kita untuk bisa menghadapi masa-masa sulit itu seorang diri. Karena, teman adalah manusia biasa. Barangkali ketika kita sedang sulit, mereka juga sedang mengalami masa sulit juga.
  2. Sayangilah diri kita sendiri, berikanlah waktu untuk bercumbu dengan diri sendiri. Barangkali, cobalah.
  3. Terdapat pada paragraf pertama, seorang yang individual itu tidak semuanya anti sosial dan tidak mau bekerja sama.

Di sela-sela ujian tengah semester, saya menuliskan ini. Ingatlah, akan ada fasenya nanti kita akan nyaman ditinggal orang-orang, dan dari sana jugalah kita akan lebih dalam mengenal diri kita sendiri.

Bung, untuk menjadi manusiawi, lebih dahulu kita perlu memanusiakan diri kita sendiri.

Kesimpulan sederhana apa lagi yang bisa kita ambil?

Yap,

Alasan terbesar mengapa saya suka menjadi orang yang individualis adalah saya bisa dengan leluasa mengenali diri saya sendiri.

Total
0
Shares
Join the discussion

thirteen + 8 =

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.