Search
Dari Aku Untuk Ayah

Dari Aku Untuk Ayah

Dari aku untuk ayah

Malam ini kota bengkulu sangat sejuk mengantar tubuhku untuk duduk di depan kostku, ramai orang lalu lalang, anak kost yang sibuk mencari makan dan menghilangkan kegabutan atau pemuda-pemudi yang sibuk metean haha oh ya disini pacaran disebut (metean)

Maklum ini malam minggu, tapi bukan itu yang sedang kufikirkan sekarang, walau banyak tugas yang sedang bergelayutan di otakku dan grup WhatsApp yang sibuk membahas kapan akan mengerjakannya, aku malah tak ingin memikirkan itu sama sekali.

Angin berhembus pelan melewati tubuhku, tanganku yang tadinya sibuk memetik rumput di depan kost kumasukan ke dalam jaket, huhhh ada air yang keluar dari mata, hah aku nangis fikirku, kenapa? Gara-gara apa? Padahal fikiranku lagi kosong, tak sadar ternyata mataku tertuju pada seorang bapak paruh baya yang sedang mendorong gerobak, ternyata ada anak perempuannya di dalam, kalau kuperkirakan anaknya berumur sekitar 7 tahun, aku tersenyum dari jauh, isyarat memberikan semangat.

Sekarang aku sadar mengapa aku menangis, aku sedang rindu suasana rumah, tepatnya kepada ayahku, aku bukan anak yang menunjukan sayang lewat sebuah pelukan hangat, bukan pula lewat sebuah kata

“ayah aku sungguh menyayangimu”

meskipun jauh di dalam lubuk hati aku ingin melakukannya, aku ingat dulu waktu umurku 5 tahun aku pernah di pukul ayah haha itu karna salahku sendiri, aku sempat berfikir ayah membenciku, tak menginginkanku dan ada niat untuk lari dari rumah, bayangkan anak umur 5 tahun punya fikiran begitu, namun ada yang aku suka setiap ayah memarahiku, kalian tau apa?

Satu jam setelah memarahiku ayah biasanya langsung menggendongku meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan tadi, membujukku dengan mengajakku jalan jalan, ke warung untuk membeli jajanan yang ku suka, tentu sebelum ayahku minta maaf aku telah memaafkannya, alasannya sederhana, karna dia ayahku.

Aku ingat dulu aku pernah menceritakan masalahku kepada salah satu teman baikku teman yang selalu ada dan tak pernah meninggalkanku namanya bintang, dia orang yang sangat bijak dalam menilai sesuatu,

 “Ling, mungkin ayah lagi capek, kita ga pernah tau apa yang sedang ayah rasain sekarang, mungkin lagi ada masalah, aku ga nyalahin kalau emosi ayah ga stabil, jadi seorang ayah ga semudah yang kita bayangin, jadi ayah itu susah, coba liat dari sisi lain”Kata-kata yang membuka luas pandanganku tentang seorang ayah, benar jangan langsung menilai sesuatu dari apa yang kita rasa, coba lihat dari sisi lain mengapa bisa terjadi.

Dan sekarang aku sedang merindukannya, aku rindu bertukar pendapat, aku suka akhirnya ayah mengalah agar aku yang menang dalam beradu argumentasi, aku suka setiap kali ayah meyimpulkan sesuatu, aku rindu setiap kali aku tidur ayah mematikan lampu kamarku, satu hal yang paling aku rindukan setiap jam 11 malam ayah biasanya lewat kamarku mengecek apakah putrinya sudah tidur atau belum, jika ayah mendengar suara hpku berbunyi spontan ayah bilang

“yuk tidoklah sudah malem, tulah galak subuh kesiangan gara-gara main hp terus”

Hehe aku tau itu kata paling romantis, aku tau tujuannya agar aku tidur, namun namanya seorang ayah tak pandai merangkai kata-kata.

Dari aku ayah, aku sungguh menyangimu, selalu mendoakanmu setiap sujud dan sebelum tidur, aku juga sangat merindukanmu, lelaki pertama yang aku cintai dan aku kagumi, sehat selalu ya.

Malampun ikut larut, udara semakin dingin, aku mengusap air mataku yang dari tadi tak sadar mengalir, lalu kembali masuk ke dalam kostku, meminum kopi seperti yang sering ayah lakukan, agar sedikit meredahkan rindu yang menggebu yaitu melakukan kebiasaan orang yang kita rindukan.

Ditulis oleh : Efry Wahyuni

Total
0
Shares
Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

seven + 4 =

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.