Busur Panah Pendidikan Indonesia

Busur Panah Pendidikan Indonesia

Saya jadi ingat, sebuah kisah Kerajaan Abbasyiah. Kerajaan Mega yang dipenuhi dengan kesejahteraan dan senyuman indah dari setiap rakyatnya. Dikisahkan bahwa kerajaan ini merupakan sisi tajam dari Agama Islam.

Bagaimana tidak, Masa Kejayaan Islam yang terjadi pada tahun 650-1250 M difaktori oleh dua kerajaan besar Islam yaitu Kerajaan Umayyah dan Kerajaan Abbasyiah. 

Perkembangan Islam pada Masa Abbasyiah ditandai dengan pesatnya ilmu pengetahuan, ekonomi, ilmu bangunan (arsitektur), sosial, dan bidang militer.

Ilustrasi proses belajar mengajar pada masa kerajaan abbasyiah | Sumber Gambar : mybllshtprspctv.blogspot.com

Puncak kejayaan kerajaan ini berada ketika kekhalifahan Harun Ar-Rasyid.

Beliau adalah raja yang tegas dan senantiasa mengajak rakyat-rakyatnya untuk terus menimbah ilmu.

Berkat usahanya itu, mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama memberikan pernyataan bahwa peradaban yang berkembang saat ini sungguh berutang besar terhadap umat islam.


Bagaimana dengan Indonesia

Apa yang anda pikirkan mengenai Piramida Terbalik di atas?

Ya, Saya mengilustrasikan piramida di atas sebagai Keadaan generasi di Indonesia dari masa kemasa. 

Jika kita perhatikan, tampak bahwa piramida diatas terus mengecil dan menggelap. Begitu juga dengan keadaan generasi di Indonesia pada saat ini.


Apa semua disebabkan karena kemajuan teknologi?

Bisa jadi, tapi saya tidak menjawab iya. 

Kemajuan teknologi pada dasarnya dipicu karena pengetahuan yang terus berkembang. Berkembangnya sebuah pengetahuan tentunya dilandasi dengan baiknya sistem pendidikan. 

Jadi, Yang salah siapa komandan?

Saya bukan hakim. Yang duduk bersama dasi walau agak sedikit miring. 

Soal salah benarnya semua tergantung dari mata yang memandangnya. 


Pada dasarnya, semua dilandasi karena sistem pendidikan yang ada di di Indonesia. 

 
dilansir dari halaman Brilio.net bahwasanya Indonesia telah mengalami 11 Kali pergantian kurikulum pendidikan. 
 

 

Awal cerita dimulai pada tahun 1947. Dimana pada saat itu Indonesia masih dipertajam dengan pimpinan Bapak Soekarno. Kurikulum ini lebih dikenal dengan nama Rentjana Pelajaran 1947
 
Hingga pada tahun 2015, Indonesia berada pada tahap penyempurnaan kurikulum 2013.
 
 
Apakah 2019 akan mengalami pergantian kurikulum lagi?
 
Itulah yang dipertanyakan, itulah yang saya pertanyakan, itulah yang ingin ditanyakan melalui tulisan ini. 
 
Mengingat Indonesia mengalami 11 kali pergantian sistem pendidikan. Tidak sedikit pula rakyat yang memperbincangkan. 
 
Saya paham, ini bukanlah soal kesetiaan, tapi soal percobaan untuk mendapatkan Berlian di dalam tambang emas.
 
 

11 kali pergantian kurikulum tentunya menunjukkan bahwa Indonesia tidak main-main dalam mencari sistem pembelajaran yang efektif. 

Hal ini menandakan bahwa betapa pentingnya pendidikan dalam kemajuan bangsa kita ini. 

Penting? 

Buktinya?


Cornelis De Houtman berhasil mendaratkan kapal mereka ke pelabuhan Indonesia pada tahun 1596. Dan pada saat itulah masa genting Indonesia dimulai. 

Jadi gampangnya begini, jika pada saat itu Indonesia telah memiliki pendidikan yang mumpuni saya pikir Indonesia tidak akan pernah dijajah yang ada malah menjajah.



Indonesia Akan dijajah lagi pada tahun 2025, Prediksi atau Opini?

Tidak-tidak, saya tidak mendoakan hal ini betul-betul terjadi. Tetapi mengingat pahitnya pertumpahan darah yang diakibatkan karena minimnya pengetahuan, hal ini tidak menutup kemungkinan
 
 
Karena itu, Indonesia harus bertindak. Indonesia harus membenahi sistem pendidikan yang ada negara ini. 
Terhambatnya perkembangan pendidikan yang ada di Indonesia sendiri tentunya memiliki faktor-faktor. Berikut Faktor penghambat perkembangan pendidikan yang ada 
 
 

1. Kurangnya Tenaga Pendidik Yang Profesional

Minimnya tenaga profesional yang ada di Indonesia | Sumber Gambar : all-free-download.com
 




Menurut Rusman (2011: 19), guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pengembang kurikulum, yang dapat menciptakan kondisi atau suasana belajar yang kondusif, yaitu suasana belajar yang menyenangkan, menarik, memberi rasa aman, memberikan ruang pada siswa untuk berpikir aktif, kreatif, dan inovatif dalam mengeksplorasi dan mengolaborasi kemampuannya. 

 
Lalu, apakah seorang guru harus memiliki skill mendidik yang profesional
 
Menurut Rusman (2011: 17), profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian atau kecakapan yang memenuhi mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
 
Jadi, mengingat minimnya pendidikan Indonesia yang masih menengah, tenaga pendidik yang profesional haruslah menjadi hal yang diperhatikan, jika Indonesia ingin bersaing dengan negara tetangga.
 
Terkhusus untuk daerah terpencil, yang masih minim sekali tenaga pendidik profesional.
 
Dengan begitu setiap daerah di Indonesia akan menikmati pengajar-pengajar yang profesional
 
 

2. Kurangnya Fasilitas Pendidikan di Indonesia
Wah bang, di Jakarta sudah lengkap kok, ac ada, komputer banyak, infocus siap sedia. di bandung juga sudah komplit kok bang, ia ini di bogor juga sudah mantap. Ngawur lo bang

 

 

Eits, coba kita lihat adik-adik kita ini. 

 

 

 

Proses belajar mengajar di daerah terpencil dengan minimnya fasilitas | Sumber Gambar : oktean.wordpress.com

 

 

Masih bilang ngawur? 

 

 

Iya, saya tahu ditempat kalian lengkap. Tapi sayangnya kalian tidak memperhatikan didaerah-daerah terpencil.

Marih sobat sejenak kita meratapi betapa sulitnya saudara-saudara kita yang tinggal di daerah terpencil untuk mendapatkan pendidikan. 


Karena itulah pemerintah juga harus memperhatikan dan melengkapi Fasilitas pendidikan secara merata.

 

 

 

 

3. Budaya Membaca yang mulai dikesampingkan

Tahun 1969, Internet pertama kali ditemukan di Amerika Serikat, melalui proyek lembaga ARPA yang mengembangkan jaringan dengan sebutan ARPANET.

 


Pada Februari 2004, Mark Zuckerberg berhasil mendirikan rajanya sosial media saat ini, yaitu Facebook. 

Saya yakin dan percaya semua keberhasilan yang telah dicapai oleh umat manusia tentunya tidak pernah terlepas dari kegigihan membaca. 

Dan pada Zaman Milenial saat ini, kita bukannya mengimbangi teknologi mala hanya sekedar mencicipi.

 

 

“Jangan meremehkan manfaat membaca. Dengan budaya membaca, kita akan menjadi bangsa yang kreatif karena terbiasa mengimajinasikan dan memprediksi apa yang kita baca” ucap Tri Rismaharani.

 

4. Kurangnya Kesejahteraan antara Guru dan Murid
Saya melansirnya dari laman Kompas.com, Timothy D.Walker atau yang akrab disapa dengan panggilan Tim.

Tim menulis sebuah buku berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai mantan guru Amerika Serikat yang mengajar di sebuah sekolah dasar di Filandia.

Ia mengaku di hari pertamanya mengajar. Saat itu ketika jam istirahat, ia menghabiskannya untuk mengecek materi pengajaran atau bahkan mengecek email.

 

Sementara itu, Guru-guru di Finlandia justru bersantai di ruang guru sambil ngopi.

 

Kemudian, seorang orang guru mengampiri Tim dan mengajaknya bergabung seraya berkata “Saya sangat khawatir dengan kesehatan anda. Apakah anda tertekan, ingat anda adalah tuan atas pekerjaan, jangan sampai diperbudak pekerjaan.”

 

 

 

Begitu juga dengan siswanya, siswa-siswa di finlandia akan sibuk dengan bermain ketika jam istirahat datang.

 

 

 

Pekerjaan Rumah yang diberikan oleh guru mereka pun terbilang sedikit, bahkan bisa dibilang 30 menit adalah waktu yang terlalu banyak untuk mengerjakannya. 

Sekolah di Finlandia sendiri tidak lebih dari 18 Jam perminggunya. 

Tidak bisa dipungkiri, pemerintah Finlandia memang mengutamakan kesejahteraan bagi guru dan siswanya.


Saya rasa tidak ada salahnya jika Indonesia melirik dan menerapkan sistem ini. Dengan begini Guru dan Murid jadi lebih mudah untuk melakukan hal lainnya.


Indonesia mengalami masa Krisis

Jadi, jika kita ambil kesimpulan. Indonesia belum bisa memperbaiki pendidikannya karena Krisis Ekonomi, Krisis Toleransi, Krisis Kesadaran, dan Krisis Waktu.

– Krisis Ekonomi menyebabkan Fasilitas yang tidak memadai. 

– Krisis Toleransi menyebabkan tawuran antar pelajaran yang berujung kematian.

– Krisis Kesadaran menyebabkan kita menjadi malas dalam belajar.

– Krisis Waktu, hmm. Orang Indonesia kan sibuk semua om.

…”Sibuk membenarkan hal yang salah untuk dibenarkan”


Lalu Solusi untuk ini semua adalah? 

Mempersembahkan…
 

 

Gedung Educenter | Sumber Gambar : www.educenter.id
 
Educenter. Mall Edukasi Pertama di Indonesia.

 

Seperti namanya, tempat ini didedikasikan sebagai pusat kursus di Indonesia. 
 

Mengapa saya berani bilang bahwa Educenter adalah solusi untuk semua faktor kegagalan pendidikan di Indonesia.

Di atas telah saya sampaikan, krisis ekonomi,toleransi,kesadaran,hingga waktu terus menghantui setiap orang yang ada di Indonesia.

Hasilnya, pendidikan di Indonesia hanya sekedar lamunan belaka.

Gampangnya begini, Educenter merupakan sebuah tempat yang di dalamnya berisi berbagai macam Tempat kursus. 

Jadi, Educenter ini sebenarnya seperti mall, tapi tidak menjual makanan, atau bahkan pakaian. Educenter merupakan mallnya pendidikan Indonesia.

Berlokasikan di Kavling Commercial International School Lot 2 no 8, Jl. Sekolah Foresta, BSD City, Tangerang 40115, Banten Indonesia.

Di dalamnya terdapat lebih dari 20 tempat kursus ternama. Kursus yang bisa kita ikuti antara lain seperti, kursus bahasa inggris, kalkulus, bahasa mandirin, kursus musik, hingga Tari Balet pun ada.

Nah, dengan adanya Educenter ini, kita yang selama ini sibuk, hingga waktu dalam belajar berkurang akan tertolongkan dengan mudah bersama educenter.

One Stop Education of Excellence. Educenter siap menjadi yang terbaik, memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi para muridnya dan orang tuanya juga.


Cara mendaftarnya gimana?

Untuk cara mendaftarnya silahkan tonton video di bawah ini.


Nah bagaimana? mudah bukan? 

Dengan adanya Educenter ini, diharapkan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya.

One Stop Education Of Excellence. Bersama Educenter kita akan melakukannya. Karena Educenter adalah Busur Panah pendidikan Indonesia.

Lalu? Anak panahnya? 

Kita.

Tidak peduli setinggi apa, sebanyak apa, semahal apa kita mendapatkan pendidikan tapi tidak kita manfaatkan.

Teman-teman, saatnya Indonesia mewujudkan mimpi menjadi Negara Super Power.

Bersama Educenter, kita bisa.

#educenter
www.educenter.id

 

Written by
Tri Bintang Utama
Join the discussion

20 − 16 =

10 comments
  • Ini ini terobosan baru, saya memdukung banget,

    Jadi kalau selama ini adik adik kita asyik dengan soping bersenang sengang di mall, sekarng jadi teralihkan ke mall tetapi untuk belajar

  • Kasarnya memang jika kita perhatikan begitu mbak, akan tetapi ya kita harap maklum saja. Di ibaratkan remaja, Indonesia saat ini masih dalam mencari jati diri sistem pendidikannya (y)

  • Benar sekali mas, secara tidak langsung educenter juga memberikan sebuah harapan untuk menciptakan tatanan hidup baru yang tidak diliputi dengan tindak kriminal. ^_^

  • Sekolah metode baru namanya ya.
    Berada dalam 1 gedung dengan konsep mall.

    Semoga saja sekolah semacam ini juga diterapkan di pelosok daerah yang masih banyak yang tertinggal,baik sarana dan prasarananya.

  • saya juga setuju dengan point yang mengatakan jika membaca di Indonesia sangat minim pengemnarnya, lihat saja di lingkungan kita, dimana anak-anak terbisa main gadget daripada harus buka buku

  • Sebenarnya Educenter bukanlah sekolah mas. Melainkan sebuah tempat yang didalamnya terdaapat berbagai macam tempat kursus. Jadi enaknya di educenter ini kita bisa menitipkan anak-anak ditempat kursus yang aman dan nyaman.

    Bahka keluarga pun juga bisa di ajak jalan-jalan di educenter. Karena didalamnya juga banyak tempat makan. =D

  • Ya benar sekali mas. Ditambah lagi para petua-petua di bidang teknologi sepakat jika infografik lebih nyaman untuk menyampaikan informasi.

    Hal ini memang baik, tapi sayangnya malah buat para warganet tambah malas membaca.

  • Yah, di educenter juga ada kursus kesenian juga mas. contohnya kursus musik. Jadi cocok nih buat mas sebagai blogger travel, bisa sambil main musik ketika jalan. =D

  • jadi educenter itu lokasinya ada di BSD city,jadi kalo ingin kursus harus kesana ???
    tidak semua orang tinggal di dekat BSD city.jadi kalo misalnya pemerintah menyetujui untuk membuat educenter ini di setiap daerah, apa bedanya dengan sekolah seperti biasa ?, saya pikir kita hanya perlu untuk mengubah sistem belajar di sekolah, kita tidak perlu belajar 10 jam nonstop dan menguasai 15 mata pelajaran, kita hanya harus mengubah sebuah system. #correctmeifIworng

Tri Bintang Utama

Founder of Islamiah.id
Founder of Bingungonline.com

Pinterest Profile