Search
Belum Bosan Untuk Terus Memutar Ulang

Belum Bosan Untuk Terus Memutar Ulang

Maret milik tahun 1998 memang dipenuhi dengan beberapa aksi para demonstran yang haus akan keadilan.

Jalan Malioboro Yogyakarta menjadi saksi di mana pada tanggal 8 Maret 1998, para Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Yogyakarta menggelar aksi “Diam Menuntut Perubahan”

Sayang beribu sayang, mereka lebih dulu dihadang para aparat ketika hendak bergerak menuju Alun-alun.

Para peserta aksi itu pun dinaikkan ke truk dan diangkut ke markas Polresta Yogyakarta.

Bukannya mempertimbangkan mengenai keadaan negri dan keinginan rakyat, MPR seolah tanpa ragu untuk mengambil keputusan. Pada 10 Maret 1998, terjadi sebuah sidang umum MPR yang memilih Soeharto dan BJ Habibie sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 1998-2003.

Mendengar berita ini mahasiswa yang menjadi pahlawan rakyat pun tidak terima. Esoknya, tanggal 11 Maret 1998, di jalanan Yogyakarta terbentang lautan manusia yang menyambut pelantikan Soeharto dan BJ Habibie dengan unjuk rasa.

Semakin tidak didengar, semakin membara saja dahaga akan kehausan itu, 12 Maret 1998 digelar demonstrasi besar-besaran yang diikuti lebih dari 30 ribu mahasiswa di Yogyakarta.

Teriakan “Merdeka” dan “Allahu Akbar” berhasil menggetarkan Yogyakarta kala itu. Mahasiswa-mahasiswa ini menginginkan dibentuknya pemerintahan yang bersih, bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sebenarnya, bukan hanya perihal KKN saja. Pada masa orde baru Hak Asasi Manusia pun begitu memprihatinkan. Pemerintah seolah tidak mau untuk dikritik. Siapa yang mengkritik, sama saja menjual dirinya untuk rela di bui atau bahkan dibunuh oleh negara.

Dan sekarang, pada periode kedua masa pemerintahan Jokowi, aksi demonstrasi pada tahun 1998 seolah terlahir kembali.

Sumber : Instagram @mfaiqarya

Demo mahasiwa yang terjadi di banyak kota pada 23-24 September 2019 tersebut membuat tagar “Saatnya People Power” Sempat menjadi trending topik dunia di Twitter.

Dilansir dari Tirto.id, ada beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa-mahasiswa di Indonesia melakukan demo, yaitu :

  1. Mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang terhadap pasal-pasal yang bermasalah dalam RKUHP.
  2. Mendesak pemerintah dan DPR untuk merevisi UU KPK yang baru saja disahkan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
  3. Menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elit-elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia.
  4. Menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja.
  5. Menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertanahan yang merupakan bentuk penghianatan terhadap semangat reforma agraria.
  6. Mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.
  7. Mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan penangkapan aktivis di berbagai sektor.

Terlepas dari 7 Faktor di atas, Perihal kebakaran Hutan pun ikut di suarakan.

Palembang sendiri menjadi salah satu kota aksi demo para mahasiswa.

Mahasiwa-mahasiswa dari berbagai Universitas yang ada di Sumatera Selatan berkumpul di depan gedung DPR.

Hal semacam itu bukanlah termasuk hal yang saya suka. Berada di keramaian, teriakan, serta kerusuhan.

Tetapi saya menyadari bahwasahnya RUU KUHP memang perlu diperhatikan ulang.

Mari kita mulai dari Pasal RUU KUHP soal korupsi yang agaknya semakin memanjakan para koruptor saja.

Singkatnya, RUU KUHP soal korupsi menegaskan adanya pengurangan hukuman bagi para koruptor.

Bukannya semakin diberatkan agar para koruptor menjadi jera, justru adanya RUU KUHP ini malah memberikan selimut yang tebal bagi para koruptor.

Terlepas dari persoalan korupsi, RUU KUHP pun berisi tentang Penghinaan kepada presiden dan wakil presiden. Pada Pasal 218 mengancam pelaku dengan penjara maksimal 3,5 tahun.

Makar, Penghinaan Bendera, Alat Kontrasepsi, Aborsi, Gelandangan, Zina dan Kohabitasi, Pencabulan, Pembiaraan Unggas dan Hewan Ternak, Narkoba, hingga Agama, turut menjadi pasal yang dipermasalahkan, atau jangan-jangan memang pasal RUU KUHP itu yang bermasalah?

Yap, sepertinya memang bermasalah.

Sumber : Instagram @mfaiqarya

Bukan bagian saya lagi yang akan mempersoalkan mengenai ayam peliharaan yang tidak boleh masuk ke teras rumah tetangga, sepasang suami istri yang sudah sah tapi ragu untuk bersetubuh karena adanya pasal RUU KUHP tersebut, dan berbagai macam kelucuan lainnya.

Saya menangkap bahwa Terdapat pola dari setiap pasal RUU KUHP tersebut. Saya menyadari bahwa RUU KUHP ini justru malah menipiskan Hak Asasi Manusia. Barangkali memang betul-betul ingin mengulang seperti masa Orde Baru.

Contohnya mengenai Pasal RUU KUHP perihal Penghina Presiden seperti yang sudah kita bahas di atas. Hal ini tentu secara terang-terangan menyatakan bahwa kita tidak memilik hak lagi untuk menyuarakan kritik kita kepada pemimpin kita. Takut? atau memang tidak mau menerima kritikan? biar dianggap jalan pemerintahahnnya baik-baik saja? begitu kah?

Kemudian RUU KUHP tentang Makar, semakin memperjelas bahwa pemerintah sekarang takut untuk dikritik. Masyarakat tidak bisa lagi secara bebas mengekspresikan keresahan mereka terhadap jalannya pemerintahan di Indonesia.

Saya sepakat apabila aborsi itu tidak baik. Tentu hal ini sungguh sangat bertentangan dengan jalannya kehidupan masyarakat di Indonesia yang menjujung tinggi ajaran agama.

Sayangnya, RUU KUHP seolah tidak memberikan pengecualian terhadap tindak aborsi ini.

Pemidanaan terkait aborsi diatur pasal 251, 415, 469 dan 470. Misalnya, pasal 469 mengatur hukuman bagi perempuan yang menggugurkan kandungannya, maksimal 4 tahun bui. Orang yang menggugurkan kandungan perempuan dengan persetujuannya juga bisa dibui maksimal 5 tahun, sesuai isi pasal 470 RUU KUHP.

Dan hal ini bertentangan dengan UU kesehatan pasal 75 ayat 2 yang mengecualian tindakan aborsi jika dalam keadaan darurat medis atau mengalami kehamilan sebab perkosaan.

Saya juga beranggapan bahwa pasal ini agaknya mengabaikan dan mengacuhkan fakta tingginya angka kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman.

Pun, turut menjadi persoalan mengenai RUU KUHP soal Gelandangan. Pasal 431 mengancam gelandangan akan di denda dengan maksimal Rp1 Juta.

Saya paham, pasal ini dibuat agar tidak ada gelandangan di Indonesia, dengan begitu Negara Indonesia terlihat begitu makmur.

Tapi yang anehnya itu begini loh, menggunakan apa gelandangan akan membayar denda tersebut? Bukankah yang menggelandang itu karena tidak memiliki kecukupan uang?

Beda halnya jika anggota DPR yang menggelandang, barulah bisa membayar denda tersebut.

Ayo dong, DPR jadi gelandangan dulu sehari. Biar pasal yang mereka buat itu bisa terlaksana dengan baik.

Perihal Pasal Pembiaraan Unggas dan Hewan Ternak berhasil menjadi pasal yang paling banyak di jadikan joke. Hati-hati, bung. Kalo ayam kita masuk teras rumah tetangga sedikit saja bisa di denda Rp 10 juta.

Pasal tentang Contempt of Court semakin memperjelas bahwa pemerintah sekarang memang tidak ingin rakyatnya mengkritik. Barang siapa yang menghina atau mengkritik hakim dalam sidang pengadilan akan didenda Rp 10 juta.

Padahal, menuduh hakim bersikap memihak atau tidak jujur, mestinya sah sebagai kritik.

Yap, jangankan kebebasan akan bersuara. Agaknya kita berada pada masa di mana

“Berpikir adalah ancaman”

Kita tidak diperbolehkan berpikir secara bebas, dan mengkritisi terhadap jalannya pemerintahan. Dengan adanya RUU KUHP ini, harapnya rakyat Indonesia jadi ragu untuk bersuara terhadap kritik mereka.

Tapi sungguh, sekali mati tetaplah mati, tidak akan terulang lagi masa Orde Baru. Tidak akan ada lagi ketakutan akan mengkritik, tidak akan ada lagi memberikan saran sama dengan memberikan nyawa, sungguh tidak akan ada lagi.

Mahasiswa berkumpul, menyatukan suara, menyamakan langkah, mengguncang Nusantara.

Selasa, 24 September 2019. Menjadi hari di mana mahasiswa-mahasiswa yang ada di beberapa universitas Sumatera Selatan berkumpul. Karena latar belakang ketidak setujuan akan RUU KUHP, saya pun ikut dalam barisan itu.

Seperti yang sudah saya bilang di atas, keramaian adalah hal yang membosankan bagi saya. Tetapi tidak lagi ketika tuhan mengasihani bumi pertiwi. Atau barangkali, bidadari-bidari surga menangis melihat rakyat Indonesia bersatu. Haus akan keadilan.

Turun hujan dari langit, bergema petir membara, dihapusnya jejak-jejak kami yang ragu. Dipastikannya bahwa kami aman, di jalan yang tentu tidak salah bahwa itu adalah benar.

Ditengah hujan yang tiba-tiba begitu deras, karena sebelumnya hujan begitu enggan membasahi bumi ini, demonstrasi tetap berjalan. Teriakan Mahasiswa-mahasiswa itu mengalahkan suara petir. Karena mereka sadar, apabila keadilan tidak tertegak di negeri ini, tangis bumi pertiwi jelas lebih deras dari pada hujan yang mengguyur kala itu.

Sumber : Instagram @mfaiqarya

Aksi ricuh pun mulai berlangsung, aparat menembakan gas air mata. Yang tadinya saya hanya membiarkan tubuh saya ditumbur oleh mahasiswa-mahasiswa yang berlari karena takut terkena gas, perlahan mulai ikut menari bersama buaian anila seiring mendekatnya gas air mata tersebut.

Tidak, dan tidak akan pernah. Mahasiswa-mahasiswa ini tidak akan pernah menyerah hanya karena gas air mata.

Hingga baru lah sekitar pukul lima sore suara mahasiswa di dengar. Keluarlah anggota DPR yang dalam hal ini dipimpin oleh RA Anita Noeringhati yang katanya baru saja dilantik sebagai pimpinan DPRD Provinsi Sumatera Selatan.

Singkat cerita, DPR siap menandatangani apa yang diinginkan mahasiwa. Para mahasiswa yang ikut dalam aksi demonstrasi itu pun perlahan mulai meninggalkan area gedung DPR.

Saya menyadari, bahwa Indonesia memang memerlukan fase ini. Esensi dari sila ketiga betul-betul terasa. Tidak memandang warna almamater, tidak memandang dari mana, asal mana, universitas mana, yang ada kita memiliki tujuan yang sama.

Meskipun pertiwi kita ditusuk oleh pemerintah, agaknya bibir merona dari sang pertiwi tersenyum begitu manis melihat rakyatnya bersatu.

Cepat membaik, Indonesia. Terima kasih juga kepada mahasiswa-mahasiswa di seluruh Indonesia yang sudah meluangkan waktu, tenaga, bahkan uangnya untuk menegakkan keadilan. Beristirahatlah, cepat pulih penatnya, karena besok, kita akan tetap bercerita lagi. Perihal negri, dan isinya. Sesegera mungkin, dahaga kita akan hilang.

Hingga artikel ini ditulis saya belum bosan untuk terus memutar ulang setiap video aksi demo entah itu dari dokumen pribadi saya maupun di sosial media.

Terus bersatulah, rakyat-rakyat Indonesia.

Hidup Mahasiswa
Hidup Rakyat Indonesia.

*Semua gambar di artikel ini milik Akun Instagram @mfaiqarya

Total
1
Shares
Join the discussion

one × 3 =

Terima Kasih.

Founder of Islamiah.id

Founder of Bingungonline.com

Sedang menggarap naskah yang berkisahkan pembunuh berantai.

Besok, kita cerita lagi.