Search
Amil Zakat dan Kesadaran yang Baru Saya Sadari

Amil Zakat dan Kesadaran yang Baru Saya Sadari

amil zakat

Saya lupa pada ramadhan keberapa, yang jelas pada saat itu posisinya saya sedang dipusingkan dengan beberapa kerjaan yang menuntut saya untuk memanjakan emosi.

Terdengar suara halus yang tidak asing lagi bagi masyarakat di desa kami. Asal suara itu tentunya dari Masjid Jami’ Darussalam. Jarak rumahku dengan masjid hanya kelang beberapa rumah.

Pak Darmashila. Seperti biasa dia mengumumkan laporan keuangan masjid sebelum sholat tarawih dimulai.

Ternyata, malam itu juga diumumkan daftar nama yang ditunjuk untuk menjadi panitia amil zakat.

Awalnya saya tidak menyadari hal tersebut. Baru setelah selesai sholat tarawih, saudara perempuan saya yang biasa saya panggil dengan sebutan mbak ta menanyakan perihal panitia amil zakat.

“Kau panitia mas e?”

Jujur, saya terkejut.

Ketika acara nuzul quran di masjid, saya hanya membagikan kopi kepada bapak-bapak, setelahnya saya pulang.

Tindakan saya tersebut tentunya punya alasan. Itu adalah pesan saya kepada pihak masjid dan rekan remaja masjid untuk tidak dimasukan saya dalam kepanitian tahun ini.

Saya terkejut bukan mengartikan kepanitian adalah tahun pertama bagi saya. Tapi saya pikir, pihak masjid dan teman-teman remaja masjid mengerti perihal kode saya itu.

Ini adalah tahun ketiga saya ditunjuk menjadi bagian kepanitian.

Saya membuka percakapan dengan ayah saya (maaf saya biasanya memanggil papa). Saya berencana untuk mengundurkan diri.

Ayah saya mengerti alasan mengapa saya mau mengundurkan diri, dia paham persis bahwa tiada malam yang saya lewatkan. Dan ketika matahari mulai terbit barulah saya tertidur.

Saya sedang memiliki dua proyek, dan menurut saya punya peluang besar. oleh sebab itulah proyek ini tidak saya anggap main-main. Terlebih lagi yang islamiah.id

Ketika keputusan saya hampir bulat untuk mengundurkan diri. Saya disadarkan. Ada dua wanita yang menegur saya. Mama ku dan Wanita yang bisa saya prediksi akan menjadi ibu yang luar biasa. (ling)

Dan, ya.

Mereka benar.

Tuhan memberi saya kesempatan untuk lebih dekat lagi kepadanya.

Al hasil, saya pun kembali menjadi panitia amil zakat.

Pada hari pertama, saya sempat ribut dengan papa dan mama saya. Sederhana, saya dipaksa bangun. Dan disuruh untuk segera ke masjid. Padahal saya baru bisa tidur jam 8 pagi.

Dan mereka pun menyerah membangunkan saya.

Saya baru terbangun jam 1 siang lebih. Saya mandi, dan langsung ke masjid.

Hari pertama tidak terlalu banyak yang dikerjakan, palingan cuma mimpin doa menerima zakat.

Di hari kedua, pekerjaan mulai bertambah dari sebelumnya. Dan saya juga datangnya lebih cepat. Kalau tidak salah jam 11 saya sudah ke masjid.

Tapi jam 2 siang saya tertidur di masjid. Oh iya, di hari kedua ini saya mendapatkan tugas tambahan. Saya disuruh mendesain banner ucapan selamat hari idul fitri untuk masjid.

Berlanjut di hari ketiga. Saya baru bisa tidur jam 8 pagi lagi. Kemudian sekitar pukul jam 9, rekan kerja saya lebih tepatnya ketua remaja masjid kerumah saya untuk mengambil flashdisk yang berisi desainan banner.

Setelah dia pergi, saya mencoba tidur kembali.

Dan sialnya, jam 11 ada lagi teman saya yang datang kerumah. Katanya, tolong desain banner itu dikirim lewat email, di flashdisk kosong.

Terpaksa saya harus bangun, mandi, dan kemasjid. Dengan waktu tidur yang diganggu terus.

Di hari ketiga ini, kerjaan saya lumayan banyak. Banyak nama yang di data, banyak yang saya pimpin doa, dan begitulah.

Tibalah di hari keempat. Menjadi final kepanitian ini. Saya kemasjid sesudah zuhur. Sekitar pukul jam 1 siang.

Ketika saya datang pekerjaan masih aman, masih seperti sebelumnya. mendata dan doa.

Tapi setelah ashar, kami mulai menimbang beras.

Semua beras yang ada di tempat penyimpanan dibawa keluar untuk ditimbang.

Saya sempat menganggkat beras yang karungnya dipenuhi dengan semut. Al hasil, banyak semut yang menggigit saya.

Saya cukup menikmati proses pekerjaan menimbang beras sehingga pekerjaannya tidak terlalu terasa.

Kami sebenarnya buka bersama di masjid. Seluruh panitia.

Tapi saya sendiri yang tidak ikut.

Alasannya sederhana, di sana tidak ada kopi.

Saya pun pulang untuk meminum kopi.

Kopi selalu menjadi penenang ketika saya letih dan dipenuhi dengan emosi.

Saya pun kembali kemasjid, setelah isya barulah kami membagikan kepada yang berhak.

Ketika proses membagikan, saya mendapat tugas memanggil nama orang berdasarkan yang tertera pada kupon.

Awalnya saya anggap ini pekerjaan sederhana. Tetapi semua berubah, setelah saya kebelet untuk pipis.

Bayangkan, saya harus menjerit memanggil nama orang. Suara saya beradu dengan suara takbiran yang keluar dari sound masjid dan suara bedug, ditambah lagi suara masyarakat yang datang sangat banyak.

Saya harus menyeimbangkan kadar teriakan dan tekanan pada perut saya. Tidak lucu rasanya jika ketika saya berteriak tiba-tiba celana saya mengalir cairan yang tidak menyehatkan. haha

Dan alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar. Setelah selesai, saya langsung ke toilet masjid untuk buang air kecil.

Kamu yang membaca tulisan ini seharusnya memahami bahwasanya saya ini orang yang pemalas. Bahkan untuk mendengarkan pengumuman di masjid saja saya tidak terdengar.

Datang selalu terlambat, dan begitulah.

Yang jelas, dari kepanitian di tahun ketiga ini saya baru menyadari beberapa hal.

Pertama, saya baru sadar jika papa saya ternyata orang yang pandai menghidupkan suasana. Memang ditahun ini papa saya tidak ikut panitia biasanya dia yang paling semangat menjadi panitia. Katanya dia mau istirahat.

Tapi, biasanya setelah ba’da zuhur dan ashar papa saya membuka percakapan dan mengajak ngobrol bapak-bapak yang tergabung menjadi panita.

Dan tidak jarang saya mendapati muka ketawa dari para bapak-bapak dan anak remaja masjid karena guyonan papa saya itu.

Saya semakin takut, apakah saya bisa seperti papa saya nanti.

Saya sempat membuka percakapan dengan papa saya

“Pa, aku salut dengan papa ni. Lah tuo tapi masih gagah dan semangat begawe. Kiro-kiro aku tuo agek biso dak cak papa”

Memuji orang tua adalah cara saya membantu mereka terhindar dari penyakit. Mereka bahagia, bung. Cobalah sesekali.

Dan benar saja, saya menguping papa saya menceritakan apa yang saya sampaikan kepada mama saya. Artinya apa? dia senang saya menyampaikannya.

Kedua, Saya baru tahu jika dulu orang yang membayar zakat dengan beras biasanya menyelipkan korek api.

Kata bapak-bapak, ada dua alasan kenapa mereka melakukan itu.

Pertama, karena mereka menganggap bahwa korek api itu bisa menerangi mereka nanti di kubur.

Dan yang kedua, mereka menganggap bahwa dengan memberi beras saja itu tanggung. Mereka pun menyelipkan korek api agar nanti yang menerima bisa memasaknya dengan korek api itu.

Kemudian

Ketiga, saya semakin paham. Orang tua juga butuh dimanja. Beberapa bapak-bapak yang ada di kepanitian saya jadikan bahan untuk berpikir.

Cara mereka berbicara menurut saya sangat membutuhkan manjaan dari keluarga, anak, dan lingkungannya.

Ayo nak, selagi masih ada waktu bersama orang tua mu. Mari manjakan mereka.

Ya, begitulah.

Secara sederhana, apa yang disampaikan oleh Mama dan Wanita linggau itu benar. Jangan jadikan kesibukan kita untuk meninggalkan tugas dari yang kuasa.

Total
0
Shares
Join the discussion

eleven − 5 =

Please note

This is a widgetized sidebar area and you can place any widget here, as you would with the classic WordPress sidebar.